0

PERADABAN ISLAM MASA BANI UMAYYAH II DI ANDALUSIA

PERADABAN ISLAM MASA BANI UMAYYAH II DI ANDALUSIA

 

A. Penaklukan Andalusia

 

andalusia adalah sebutan bagi semenanjung Iberia periode Islam berasal dari kata Vandalusia. Yang dikuasai BANI UMAYYAH pada masa Khalifah al-walid ibn Abd al-Malik (86-96/705-715).

Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman 500 orang di pimpinan Tarif ibn Malik pada tahun 91/710. Dan berhasil menguasai TARIFA serta membawa  banyak  ghanimah, Musa ibn Nushair Gubernur Afrika Utara pada kala itu mengirimkan 7000 orang tentara di pimpinan Thariq bin ziyad  mendarat di bukit karang Giblartar (Jabal Thariq) pada tahun 92/7l1 .

Di atas bukit, THARIQ memberi semangat pada pasukannya,karena jumlah lawan lebih banyak. Dan mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara, sehingga jumlah pasukannya menjadi 12.000 orang

Pertempuran pecah di dekat muara sungai Sarado pada bulan Ramadhan

92/19 Juli 7l1 dan dapat menguasai Toledo, ibu kota Gothia Barat, pada Bulan Juni 712 Musa berangkat ke Andalusia membawa 10.000 orang tentara dan menyerang kota kecil Talavera. Thariq menyerahkan kepemimpinan kepada Musa. Pada saat itu pula Musa memaklumkan Andalusia menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.

Penaklukkan selanjutnya diarahkan ke kota-kota di bagian utara hingga

mencapai kaki pegunungan pyrenia. Tempat yang ingin ditaklukkan tapi tidak di restui oleh khalifah. sebelum berangkat, Musa menyerahkan kekukasaan kepada Abd al-Aziz ibn Musa. Abd al-Aziz berhasil menaklukkan Andalusia bagian timur, sehingga dengan demikian seluruh Andalusia sudah jatuh ke tangan umat Islam, kecuali Galicia sebuah kawasan yang terjal dan tandus di bagian barat laut semenanjung itu.

Andalusia menjadi salah satu propinsi dari Daulah Bani umayyah sampai tahun 132/750. Selama periode tersebut para Gubernur Umawiyah di Andalusia

berusaha mewujudkan impian Musa bin Nushair untuk menguasai Galia. Akan

tetapi, dalam pertempuran poitiers di dekat Tours pada tahun l 14/733 tentara

Islam di bawah pimpinan Abd ar-Rahman al-Ghafiqi dipukul mundur oleh

tentara Nasrani Eropa di bawah pimpina Karel Martel. Itulah titik akhir dari

serentetan sukes umat Islam di utara pegunungan pyrenia. setelah itu mereka

tidak pernah meraih kemenangan yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa

Ketika bani umayyah runtuh andalusia menjadi satu propinsi dari bani abbas sampai Abd Al Rahman ibn muawiyyah dan memproklamasikan Umayyah II di Cardova sampai tahun 422/1031

 

 

 

B. Ihwal Pemerintah

 

Abd al rahman ibn muawiyyah lolos dari pembunuhan saat revolusi Abbasiyyah tahun 132/750.  Dan di sebut ad dhakhil karena dapat menyingkirkan yusuf ibn al rahman al fihri pada tahun 138/756. Dan tahun 757 ia menghapus nama khalifah dari khatbah jumat yang di lakukan gubernur sebelumnya. Tapi beliau lebih senang di panggil dengan sebutan amir.

          Selama 32 tahun ia mampu mengatasi dari dalam maupun luar dan dijuluki RAJAWALI QURAISY. Gelar amir dipertahankan sampai pemerintahan amir ke 8 abd al rahman III ( 300-350/912-961 ) dan menambahi gelar al nashir di belakang namanya.

Pada masa al-Nashir inilah Bani umayyah II mencapai puncak kejayaan dan masih dipertahankan      di bawah kepemimpinan Hakam Il al-Mustanshir (350- 366/ 961-976). Ketika al-Mustanshir wafat putera Mahkota Hisyam II yang baru berusia l0 tahun dinobatkan menjadi khalifah dengan gelar al-Mu’ayyad.  Muhammad ibn Abi Amir al-Qahthani yang diangkat menjadi Hakim Agung pada akhir kekuasaan al-Mustanshir. mengambil alih seluruh kekuasaan dan menempatkan khalifah di bawah pengaruhnva. Ia memaklumkan dirinya sebagai al malik almansur billah (366-393/976-1003)

          Untuk memperkuat kedudukannya, al-Manshur menyingkirkan pangeran pangeran Bani umayyah dan pemuka-pemuka suku yang berpengaruh. Ia membentuk polisi rahasia yang terdiri dari orang-orang Barbar, sedangkan tentara khalifah yang terdiri dari orang Slavia dibubarkan dan diganti dengan

tentara baru dari orang-orang Barbar dan orang Nasrani dari Leon, castilla dan

Navarre. Garis kebijakan al-Manshur diteruskan oleh Abd al-Malik ibn Muhamrnad yang bergelar aI-MaIik aI-Mudhaffar (393-399/1033- 1009). Sampai saat itu Daulah Umayyah masih disegani oleh lawan-lawannya di belahan utara. Akan tetapi. ketika al-Mudhaffar  digantikan oleh Abd al-Rahman ibn Muhammad yang bergelar al-Malik al-Nashir li Dinillah (399/1009) terjadi kemelut di dalam negeri yang menghantarkan kedaulatan Umawiyah ke tepi jurang kehancuran.

                Malapetaka kehancuran mulai melanda istana ketika pemuka-pemuka

Bani umayyah memecat al-Mu’ayyad dari jabatan khalifah, karena ia bersedia memberikan jabatan tertinggi negara itu kepada al-Nashir li Dinillah sepeninggalnya kelak. Mulai saat itu perebutan kursi khilafah sudah tidak bisa

dihindari. Dalam tempo 22 tahun terjadi l4 kali pergantian khalifah, umumnya

melalui kudeta, dan lima orang khalifah di antaranya naik tahta dua kali. Daulah

umawiyah akhirnya runtuh ketika Khalifah Hisyam III ibn Muhammad III yang

bergelar ql-Mu’radhi (418/1027-422/103l) disingkirkan oleh sekelompok angkatan bersenjata. Para pemuka penduduk cordova segera meminta umayyah

bin Abd al-Rahman agar bcrsedia menduduki jabatan khalifah. Akan tetapi, ia

tidak sempat menikmati jabatan tertingi negara itu, karena terpaksa harus

bersembunyi untuk menyelamatkan  diri dari bahaya yang mengancam dirinya. Dalam pada itu, wazir Abu  al-Hazm ibn Jahwar memaklumkan penghapusan khilafah untuk selamanya karena dianggap tidak ada lagi orang yang layak atas jabatan itu.  Di atas puing-puing Daulah Umayyah Andalusia memasuki babak baru yang dikenal dengan Periode Muluk al-Thawaif

 

C. Hubungan Luar Negeri

 

Bani Umayyah II telah menjalin pcrsahabatan dengan Bizantium untuk

menghadapi ancaman Bagdad. Pada masa al-Nashir, hubungan dengan negara negara tetangga diperluas. Pada tahun 334/945 Raja Otto dari Jerman telah

mengirim dutanya ke cordova. sebagaimana dilakukan Raja Prancis dan raja raja lainnya. Italia menjalin persahabatan dengan cordova setelah menderita

kerugian akibat serbuan Fathimiyah ke Genua. sebagaimana halnya Bizantium

yang ingin melepaskan Sicilia dari cengkraman kekuasaan Khalifah al-qaim bi Amrillah al-Fathimi (322-334/934-945). Kaisar Bizantium constantine Porphryogenitus (911-959) mengirimkan dutanya ke cordova pada tahun 336-

337/947-948 untuk mengikat perjanjian damai dengan al-Nashir, guna menghadapi Abbasiyah dan Fathimiyah. Hubungan dengan Bizantium ternyata

tidak terbatas hanya dalam bidang politik, sebagaimana ditunjukkan dengan andil Bizantium dalam pembuatan mihrab Masjid Agung cordova dan pembangunan al-Zahra. Bizantium pernah mengirim Nicholas untuk menerjemahkan sebuah buku kedokteran, yang dihadiahkan kepada al-Nashir,

dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin yang selanjutnya diterjemahkan oleh

Ibn Syibruth ke dalam bahasa Arab.Provense adalah salah satu negara yang

merasakan langsung ancaman perluasan kekuasaan muslim di Laut Tengah. Menyadari hal itu, Raja Provense meminta bantuan kepada otto (936-973) Kaisar Jerman yangpada tahun 966 dinobatkan menjadi Kaisar Imperium Roma

Suci, untuk menghadapi ancaman tersebut. Pada tahun 345, otto mengirimkan

delegasinya ke cordova di bawah pimpinan Uskup Jean de Gorza. Al-Nashir

mengirim delegasi balasan ke Jerman dibawah pimpinan Uskup Rabi’ bin Zaid,

yang dalam catatan Spanyol lebih dikenal dengan nama Recemundo. Kondisi

politik yang demikian memberi pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban Andalusia.

 

D. Komposisi Penduduk

 

Penduduk Andalusia terdiri dari banyak unsur, antara lain Arab, Barbar,

spanyol, Yahudi dan Slavia. Bangsa Arab dan Barbar datang ke daratan ini sejak masa penaklukan. orang-orang Arab ini terdiri dari dua kelompok besar, yaitu keturunan Arab utara atau suku Mudlari dan keturunan Arab Selatan atau suku . Yamani. Kebanyakan orang Mudlari tinggal di roledo, Saragossa, Sevilla dan valencia, sedangkan orang-orang yamani banyak bermukim di Granada, cordova, sevilla, Murcia dan Badajoz. orang-orang Barbar  banyak ditempatkan di daerah-daerah perbukitan yang kering dan tandus di bagian utara negeri ini, berhadapan dengan. basis-basis kekuatan Nasrani, padahal pada saat yang sama orang-orang Arab menempati lembah-lembah subur yang jauh dari ancaman kelompok-kelompok gerilya orang-orang salib itu. oleh karena itu, wajar apabila dalam beberapa kerusuhan yang timbul  salah satu penyebabnya berakar pada kemarahan orang-orang Barbar  yang semakin meluas terhadap penguasa Arab yang diskriminatif .  Ketidakpuasan orang Barbar ini mereda ketika al- Nashir berkuasa, namun kekecewaan mereka muncul kembali sepeninggal al- Manshur bin Abi Amir.

Penduduk keturunan Spanyol terdiri dari; (l) kelompok yang telah memeluk Islam, (2) kelompok yang tetap pada keyakinannya tapi meniru adat kebiasaan bangsa Arab, baik dalam bertingkah laku maupun bertutur kata: mereka dikenal dengan sebutan Musta’ribah dan (3) kelompok yang tetap berpegang teguh pada agamanya semula dan warisan budaya nenek moyangnya.

Tidak sedikit pemeluk agama Nasrani yang menjadi pejabat sipil maupun militer dan ada pula yang bertugas sebagai pemungut pajak. Sebagaimana umat

Nasrani, bangsa Yahudi pun menikmati kebebasan beragama yang cukup luas di

bawah kekuasaan Bani Umayyah II ini.

Kelompok lain yang tidak kalah penting dalam kehidupan politik dan

sosial budaya di Andalusia adalah golongan Slavia. Ketika al-Nashir menyadari

bahwa semangat kesukuan Arab yang berlebihan merupakan sumber perpecahan dan persengketaan, ia melimpahkan kepercayaan kepada kelompok budak itu untuk dijadikan pengawal di istananya. Mereka dididik dalam bidang kemiliteran dan diangkat menjadi tentara pemerintah. Menurut al-Maqarri jumlah mereka di istana al-zahra pada waktu itu mencapai 3750 orang. Ketika al-Manshur memberi kepercayaan yang lebih besar lagi kepada orang Barbar,

orang Slavia tersingkir dari istana. Oleh karena itu, kelompok ini segera terlibat

dalam pemberontakan tidak lama setelah al-Manshur wafat.

 

E. Perkembangan Kota dan Seni Bangun

 

Penduduk Andalusia, baik Muslim maupun bukan, memperoleh kesempatan yang sama untuk berperan serta dalam pembangunan negara. Oleh karena itu, Bani Umayyah II yang merupakan inti kekuasaan Islam di Andalusia, mampu menempatkan Cordova sejajar dengan Konsrantinopel dan Bagdad sebagai pusat peradaban dunia. Cordova menjadi penting sejak Samah ibn Malik al-Khaulani menjadikan kota ini sebagai ibu kota propinsi Andalusia menggantikan Sevilla pada tahun  100/719. Ia membangun tembok dinding kota, memugar jembatan tua yang dibangun oleh penguasa Romawi dan membangun kisaran air.

Ketika al-Dakhil berkuasa, Cordova menjadi ibukota negara. Ia membangun kembali kota ini dan memperindahnya, serta membangun benteng di sekeliling kota dan istananya. Supaya kota ini mendapatkan air bersih, digalinya danau yang airnya didatangkan dari pegunungan. Air danau itu selain dialirkan melalui pipa ke istana dan rumah-rumah penduduk, juga dialirkan melalui parit parit ke kolam-kolam dan lahan-lahan pertanian.

 Sepeneninggal al-Dakhil Cordova terus berkembang dan menjadi salah satu kota terkemuka di dunia. Perkembangan paling pesat terjadi pada masa al Mustanshir dan al-Mu’ayyad. Pusat kota yang dikelilingi oleh dinding tembok

dengan tujuh pintu gerbangnya, pada waktu itu sudah berada di tengah, karena

berkembangnya daerah pinggiran di sekitarnya.  Daerah pinggiran itu menurut

Jurji Zaidan berjumiah 21 distrik yang masing-masing memiliki banyak masjid,

beberapa pasar dan pemandian umum. sedangkan menurut Hasan Ibrahim Hasan jumlah daerah pinggiran itu tidak kurang dari 28 distrik. Adapun luas Cordova pada waktu itu sekitar  144 mil persegi; panjang  24 mil dan lebar enam mil.

Jumlah penduduk Cordova kira-kira 500.000 orang, sedangkan rumahnya

berjumlah 13.000 buah, tidak termasuk istana-istana megah, daerah pinggiran,

300 buah pemandian umum dan 3000 buah masjid. Tidak ada satu kota pun yang menandingi Cordova pada waktu itu selain Bagdad.  Menurut Jurji zaidan

penduduk Cordova (termasuk daerah pinggiran) pada masa  al-Manshur  bin Abi Amir kira-kira dua juta orang. Bangunannya berjumlah 124.503 buah, terdiri dari 113.000 rumah penduduk,430 buah istana,6.300 rumah pegawai negeri.3.873 buah masjid dan 900 buah pemandian umum. Seluruh jalan di Cordova pada waktu itu sudah diperkeras dengan batu dan diterangi lampu pada waktu malam. Bandingkan dengan london yang 700 tahun kemudian hampir belum ada sebuah lentera pun yang menerangi jalan di sana, juga di Paris selama berabad-abad kemudian, tebalnya lumpur di musim hujan bisa setinggi mata kaki bahkan sampai ke ambang pintu rumah.

Kebanggan Cordova tidak lengkap tanpa al-Qashr al-Kabir, al-Rushafa,

Masjid Jami Cordova, Jembatan Cordova  al-Zahra dan al-Zahirah. Al-Qashr  al- Kabir adalah kota satelit yang dibangun oleh al-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa orang pengantinya. Di dalamnya dibangun 430 gedung yang di antaranya merupakan istana-istana megah. Masing-masing istana itu diberi nama khusus, seperti al-Kamil , al-Mujaddid, al-Hair, al-Raudlah, al-Zahir, al-Ma’syuq al-Mubarak  al-Rasyiq, Qashr  al-Surur, al-Taj, al Badi’ dan sebagainya- Rushafah adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun al-Dakhil di sebelah barat laut Cordova. Istana itu mencontoh bentuk Istana dan Taman Rushafah yang pernah dibangun oleh nenek moyangnya di Syria. Banyak tanaman pengisi taman yang sengaja didatangkan dari luar Andalusia. Seperti tuhfah Persia dan delima. Sebatang pohon palem yang hanya satu-satunya tumbuh di taman itu, mungkin palem pertama yang sejenis, dikirim dari Syria oleh Ummu Asbagh saudara perempuan al-Dakhil.

Peninggalan al-Dakhil yang hingga kini masih tegak berdiri adalah Masjid Jami cordova, didirikan pada tahun 170/786 dengan dana 80.000 dinar. Dalam tahun 177/793 Hisyam I menyelesaikan bagian utama masjid ini dan menambah menaranya. Al-Ausath, al-Nashir, al-Mustanshir darr al-Ma’shur, memperluas dan memperindahnya, sehingga menjadi masjid paling besar dan paling indah pada masanya. Menurut al-Bithuni, panjang masjid dari utara ke selatan adalah 175 meter, sedangkan lebarnya dari barat ke timur 134 meter. Masjid ini memiliki sebuah menara  yang tingginya 20 meter terbuat dari marmer dan sebuah kubah besar yang didukung oleh 300 buah pilar yang terbuat dari marmer pula. Di sekeliling kubah besar itu terdapat 19 buah kubah kecil. Di muka mihrab terdapat empat buah tiang dari batu pualam yang bcrdiri bertentangan, dua berwarna hijau dan dua lagi berwarna biru. Bangunan ini tidak scluruhnya beratap, melainkan ada sebagian yang sengaja terbuka supaya cahaya dan udara segar dapat masuk ke ruangan sebanyak-banyaknya. Atap masjid didukung oleh 1293 tiang pualam bertatahkan permata, sedangkan talangnya yang berjumlah  280  buah terbuat  dari perak murni. Di tengah masjid terdapat tiang agung yang menyangga  l000 buah lentera. Ada sembilan buah pintu yang dimiliki masjid ini, semuanya terbuat dari tembaga, kecuali pintu maqshurah yang terbuat dari emas murni. Ketika cordova jatuh ke tangan Fernando III  pada tahun 1236. masjid ini dijadikan gereja dengan nama santa Maria, tetapi di kalangan masyarakat Spanyol lebih populer dengan sebutan la Mezquita, berasal dari kata Arab al-masjid.

Dalam tahun 325/936 al-Nashir membangun kota satelit dengan nama salah seorang selirnya, al-Zahra, di sebuah bukit di pegunungan Sierra Morena,  sekitar tiga mil di sebelah utara cordova. Menurut al-ldrisi, alzahra terdiri atas tiga bagian yang masing-masing dipisahkan oleh pagar tembok. Bagian atas terdiri atas istana-istana dan gedung-gedung negara lainnya, bagian tengah adalah taman dan tempat rekreasi. sedangkan di bagian bawah terdapat rumah-rumah. toko-toko, masjid-masjid dan bangunan-bangunan umum lainnya. lstana-istana  al-zahra di bagian atas itu, yang terbesar di antaranya diberi nama Dar al-Raudlah.

Pembangunan kota ini memakan waktu sekitar 40 tahun dan baru selesai

pada masa al-Mustanshir.  Setiap harinya menyerap  tenaga kerja sekitar 10.000

orang dan l500 hewan pengangkut. Marmer yang diperlukan didatangkan dari

Numidia dan Kartago, sedangkan sokoguru-sokoguru dan bak-bak berukir emas dari Constantinopel. Arsirek dan tenaga ahli banyak didatangkan dari luar negeri, termasuk dari Konstantinopel dan Baghdad.

Kemegahan al-zahra  hampir menyamai al-qashr al-Kabir. Ia dilengkapi

taman indah yang di sela-selanya mengalir air dari gunung, danau-danau kecil

berisi ikan aneka warna dan sebuah taman margasatwa berisi aneka binatang

buas dan berbagai jenis burung serta satwa-satwa lainnya. Di dalam komplek ini terdapat sebuah pabrik senjata dan pabrik perhiasan serta sebuah masjid berukuran panjang 57 meter dan lebar 30 meter. Masjid Agung al-zahra dibangun tidak beratap. selain pada mihrabnya. Mimbarnya ditempatkan pada ruangan khusus berlantai marmer merah muda, sedangkan di tengah masjid mengalir air yang tidak pernah kering. Pembangunan masjid ini melibatkan 300 orang tukang batu, 200 orang tukang kayu dan 500 orang pekerja kasar lainnya.

Sejalan dengan perkembangan bahasa Arab, berkembang pula kesusastraan Arab yang dalam arti sempit disebut adab, baik dalam bentuk puisi

maupun prosa. Di antara jenis prosa adalah khithabah, tarassul maupun karya

fiksi lainnya Beberapa contoh khithabah dari Andalusia tcrmuat dalam Nafh al-

Thayyib min Ghushn al-Andalus at-Rathib karya al-Maqarri, dan dalam Qala’id

al-Iqyan fi  Mahasin al-A’yan buah pena al-Fath ibn Khaqan.

Menurut Ameer Ali “orang-orang Arab Andalusia adalah penyair-penyair

alam. Mereka menemukan bermacam  jenis puisi. yang kemudian dicontoh oleh

orang-orang Kristen di Eropa Selatan.”  Sebagaimana halnya di Timur,  jenis

syair yang berkembang di Andalusia adalah madah, ratsa, ghazal, khimar, washf, himasah, hija, zuhd dan hikmah.  Sebelum lslam masuk ke Andalusia,

orang Spanyol suka berseloka. Kedatangan Islam telah memperluas seloka seloka Spanyol yang tidak beraturan itu, sehingga lahir muwasysyah,  dan muwasysyah ini melahirkan zajal.

Di antara sastrawan terkemuka Andalusia adalah Abu Amr Ahmad ibn

Muhammad ibn Abd Rabbih, lahir di cordova 246/860. Ia menekuni ilmu kedokteran dan musik, tetapi kecenderungannya lebih banyak kepada sastra dan

sejarah. Ia semasa dengan empat orang Khalifah Umawiyah yang bagi mereka

telah ia gubah syair-syair  pujian (madah), sehingga ia memperoleh kedudukan

terhormat di istana. Pada masa al-Nashir ia menggubah 440 bait syair dengan

menggunakan bahan acuan sejarah. Ketika memasuki usia lanjut, ia menyesali

kehidupan masa mudanya, dan lebih menyukai hidup zuhud. Oleh sebab itu, ia

menggubah syair-syair zuhdiyat yang ia himpun dalam al-Mumhishat. Sebagian

besar karya syairnya sudah hilang, sedangkan yang berupa prosa ia tuangkan

dalam karyanya yang diberi nama al-‘Aqd al-Farid.  Ia wafat dalam keadaan

lumpuh pada tahun 328/940.

Sastrawan lain yang tidak  kalah populer adalah Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid, lahir di Cordova pada tahun 382/992. Sejak muda ia dekat dengan penguasa. Bahkan ketika Cordova dilanda kemelut politik ia tetap mendekat kepada khalifah yang sedang berkuasa. Akan tetapi. orang-orang yang tidak suka selalu berusaha untuk menyingkirkannya dengan menjelek-jelekkan namanya di depan penguasa. Pada masa kekuasaan Hamudiyah penyair ini dipenjarakan dan menerima penghinaan serta penganiayaan yang berat. Ia dibebaskan dalam keadaan lumpuh sampai wafat pada tahun 427/1035 .

Karya lbn Syuhaid, baik prosa maupun puisi, hanya beberapa potong saja yang ditemukan. Karyanya dalam bentuk prosa antara lain Risalah al-Tawabi’ wa al-Zawabigh, Kasyf  al-Dakk  wa Atsar al-Syakk dan Hanut ‘Athar. la juga menulis beberapa risalah untuk para amir, wazir, sastrawan dan penulis di antaranya berupa  kritik sosial. Puisi-puisinya yang bisa ditemukan hanya yang diriwayatkan oleh Ibn Bassam dalam al-Dzahirah, al-Fath ibn Khaqan dalam Matmah al-Anfus, al-Maqaari dalam Nafh al-Thay-yib, Al-Tsa’alibi dalam Yatimah al-Dahr dan Ibn Khallikan dalam Wafayat al-A’yan. Puisi-puisi lbn Syuhaid  itu  berkisar  sekitar  madah, ratsa, ghazal, syakwa, fakh, dan washf .

Sastrawan lain yang semasa dengan Ibn Syuhaid ialah Ibn Hazm (384/

994-455/1063). seorang  penyair sufi yang  banyak  menggubah puisi-puisi cinta. Puisi-puisinya yang dihimpun dalam sebuah antologi Permata Seorang Dara, berisi gambaran aspek-aspek percintaan dari pengalamannya sendiri dan

pengalaman orang lain. Kedua orang sastrawan terkemuka itu sempat menyaksikan keruntuhan Khilafah Umawiyah dan meratapi istana Cordova ketika di landa kehancuran.

Kecuali yang tersebut di atas masih banyak sastrawan lainnya- antara lain

Ibn Hani al-Ilbiri (w.362/972), al-Zabidi (w.379/989), Ibn Zamanain (w. 398/ 1007), al-Mushhafi (w. 372/982),Ibn Idris al-Jaziri (w. 394/1003), Ibn Darra al-

Qasthili (w. 1030 M), Ibn Bard (w. 394/1003 ) dan Ibn Zaidun (394/1003- 463/1071). Yang disebut terakhir ini melejit namanya pada masa Muluk al- Thawaif, karena hanya sampai usia 28 tahun ia menyaksikan eksistensi Daulah Bani Umayyah Cordova. Selama 40 tahun berikutnya ia hidup dalam periode Muluk  at-Thawaif. Ia dianggap penyair paling besar di Andalusia pada masanya.

Seirama dengan perkembangan syair, berkembang pula musik dan seni

suara. Dalam hal ini tidak bisa dikesampingkan  jasa besar Hasan bin Nafi’ yang

Iebih dikenal dengan panggilan Ziryab.la seorang maula dari lrak, murid Ishaq

al-Maushuli seorang musisi dan biduan kenamaan di istana Harun al-Rasyid.

Ziryab tiba di Cordova pada tahun pertama pemerintahan Abd al-Rahman ll al Ausath. Keahliannya dalam seni musik dan tarik suara. pengaruhnya masih

membekas sampai sekarang, bahkan ia dianggap sebagai peletak dasar dari musik Spanyol modern. Tidak diingkari, baik oleh sarjana Barat maupun Timur, bahwa orang Arab pula yang memperkenalkan hot: do, re, mi, fa, sol, la, Si. Bunyi-bunyi itu diambil dari huruf-huruf Arab: Dal, Ra, Mim, Fa, Shad, Lam,Sin.

 

F. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

 

Pemisahan Andalusia dari Baghdad secara politis, tidak berpengaruh terhadap transmisi keilmuan dan peradaban antara keduanya. Banyak muslim Andalusia yang menuntut ilmu di negeri Islam belahan timur itu, dan tidak sedikit pula ulama dari Timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia. Oleh karena itu, pengaruh Timur cukup besar terhadap perkembangan ilmu dan peradaban di Andalusia.

Kebanyakan umat Islam Andalusia adalah penganut madzhab Maliki. Konon madzhab ini diperkenalkan pertama kali di Andalusia oleh Ziyad ibn Abd  al-Rahman ibn Ziyad al-Lahmi. Ia hidup pada masa Hisyam I bin Abd al- Rahman  al-Dakhil, dan belajar Ilmu Fiqh di Madinah dari Imam Malik bin Anas (96-179-715-795). Jejaknya diikuti oleh Yahya bin Yahya al-Laitsi, yang selain memperoleh ilmu dari al-Lahmi, ia juga berguru kepada Imam Malik. Atas usaha al-Laitsi ajaran Malikiyah semakin tersebar di Andalusia, dan menjadi anutan sebagian besar umat Islam di sana. Sebelumnya mereka menganut ajaran  Imam Auza’i, seorang Faqih besar yang fahamnya tersebar luas di Syam pada masa kejayaan Daulah Bani Umayyah I.

Tokoh lain yang tidak kalah populernya dalam pengembangan Ilmu Fiqh di Andalusia, ialah seorang sastrawan Abu Bakar Muhammad ibn Marwan ibn Zuhr (w. 422/1031), di samping Abu Muhammad Ali ibn Hazm w. 455/1063) penyusun al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa f at-Nihal. Semula Ibn Hazm menganut madzhab Syafi’i, tetapi kemudian beralih menjadi pengikut Imam

Daud al-Dhahiri. Oleh karena itu, ia telah berperan dalam mengembangkan dua madzhab ini di Andalusia, di samping ia juga sebagai pemuka gerakan Asy’ariyah di sana.  Ia telah menulis sekitar  400  buku tentang sejarah, theologi, Hadits, puisi dan lain-lain.

Dasar pemikiran hukum madzhab Maliki adalah Hadits,. Al-Muwaththa yang memuat sekitar 1700 Hadits Rasulullah saw, adalah karya besar Malik ibn Anas yang  sekaligus merupakan Kitab Fiqh madzhab Maliki. oleh karena itu. perhatian muslimin Andalusia terhadap Hadits Rasulullah saw amat besar. Penghafal Hadits terkenal adalah Abu Abd al-Rahman al-Mukhallad (w. 276/887) yang belajar dari para imam dan ulama Hadits di Timur. Selain al- Mukhallad  tercarat  pula Abu Muhammad Qasim ibn Ashbagh dan Muhamnrad ibn Abd  al-Malik ibn Aiman sebagai ulama Hadits kenamaan pada masanya.

Ilmu agama yang juga berkembang amat pesat ialah Ilmu qira’at, yaitu ilmu yang membahas cara membaca lafadh-lafadh al-qur’an yang baik dan benar,  Abu Amr al-Dani Utsman ibn Said (w. 444/1052) adalah ulama ahli Qira’at  kenamaan  dari Andalusia  yang  mewakili  generasinya. la telah menulis 120 buku, diantaranya al-Muqni’u wa al-Taisir.

Menurut Muhammad Shaghir al-Mas’umi, pada abad  lV H/X M para pelajar Andalusia pergi ke Bagdad, Bashrah. Damaskus dan Mesir untuk mempelajari  Hadits, Tafsir, fiqh, logika dan  filsafat. Muhamnrad ibn Abdun al-Jabali pada tahun 347/952 belajar logika kepada Abu Sulaim  Muhammad ibn Thahir ibn Bahran al-Sijistani, dan kembali ke Andalusia pada tahun 360/ 965. Sebelumnya dua orang bersaudara  Ahmad  dan umar  ibn  yunus al Barrani belajar berbagai ilmu kepada Tsabit ibn Sinan ibn tsabit ibn qurrah di Bagdad sejak tahun 339/935, kembali  ke Andalusia pada tahun 35l/956. Abu al-qasim Maslamah ibn Ahmad al-Majriti (w. 391/1007) pergi ke Timur mempelajari manuskrip-manuskrip Arab dan Yunani, kemudian mengembangkan ilmu yang diperolehnya itu di Andalusia. Ia sangat besar jasanya dalam bidang ilmu matematika, astronomi, kedokteran dan kimia dan dianggap sebagai orang yang memperkenalkan Rasail lkhwan al-shafa ke Eropa. pengikutnya antara lain Ibn Shafar, al-zahrawi, al-Karmani dan Abu Muslim Umar ibn Ahmad ibn Khaldun al-Hadlrami. Menurut Qadli  Said dan al-Maqarri, ar-Kannani (w. 450/1063) adalah orang pertama yang memperkenalkan Rasair lkhwan al-shafa di Spanyol.

Luthfi Abd al-Badi’ mengemukakan, bahwa Muhammad ibn Abdillah ibn Misarrah  al-Bathini (269-319 H) dari cordova dikenal sebagai orang pertama yang menekuni  filsafat di Andalusia. Hal ini berarti, filsafat sudah dikenal di semenanjung  ini sebelum munculnya  al-Jabali. Ilmu tersebut berkembang pesat pada  masa  al-Nashir dan mencapai puncaknya pada masa al-Mustanshir. Sewaktu  para filosuf  dikutuk pada masa daulah Amiriyah, ilmu ini mengalami kemunduran drastis, tetapi kemudian muncul kembali dan mengalami kemajuan pesat pada masa Muluk al-Thawaif.

Sejalan dengan perkembangan firsafat, berkembang pura ilmu-ilmu lain. Ilmu pasti yang banyak digemari bangsa Arab berpangkal dari buku India sinbad yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibrahim al-Fazari pada tahun 154/ 771. Dengan perantaraan ini bangsa Arab mengenal dan mempergunakan angka-angka India yang di Eropa lebih dikenal dengan angka ‘Arab.  Sarjana Andalusia kenamaan dalam periode ini antara lain Abu ubaidah Muslim ibn ubaidah al-Balansi, seorang astrolog dan ahli Ilmu Hitung. Ia yang dikenal sebagai shahib al-qiblat, karena banyak sekali mengerjakan shalat, adalah seorang alim mengenai gerakan bintang-bintang.

 Astronomi berkaitan erat dengan ilmu pasti. Astronomer Andalusia terkenal selain yang tersebut di muka, antara lain Abu al-qasim Abbas ibn Farnas. Tokoh legendaris ini juga menekuni ilmu pengetahuan alam dan kimia. Percobaan percobaannya yang spektakurer pada masa itu, terah menyebabkan ia dituduh sebagai orang tidak waras. IImu kimia, baik kimia murni maupun kimia terapan adalah dasar bagi ilmu farmasi yang erat kaitannya dengan ilmu kedokteran. Al-siba’i mengemukakan, bahwa farmasi dan ilmu kedokteran telah

Mendorong para ahli untuk menggali dan mengembangkan ilmu kimia dan ilmu tumbuh-tumbuhan untuk kepentingan pengobatan. oleh karena itu, demikian siba’i dengan mengutip Homeld, ulama-ulama Arablah yang menciptakan apotek dan farmasi.

Dalam bidang kedokteran, muslimin Andalusia tidak ketinggalan oleh

saudara-saudaranya di Timur. Dokter dokter Andalusia kenamaan di antaranya

adalah Ahmad ibn Iyas al-Qurthubi dan at-Harrani pada masa Muhammad I ibn

Abd al-Rahman II  al-Ausath, yahya bin Ishaq pada masa Abdullah ibn Mundzir

yang kemudian diangkat menjadi menteri oleh al-Nashir, al-Majriti sebagaimana telah disebut di muka pada masa al-Mustanshir, dan Abu Daud sulaiman ibn Hassan pada masa al-Mu’ayyad. selain nama-nama tersebut, Abu al-qasim al- zahrawi yang di Barat dikenar dengan Abulcasis, memberi kesan tersendiri dalam dunia kedokteran. Ia dikenal sebagai dokter bedah, perintis ilmu penyakit telinga dan pelopor  ilmu penyakit kulit. Karyanya yang berjudul at-Tashrif li Man ‘Ajaza ‘an al-Ta’lif, pada abad XII M telah diterjermahkan oleh Gerard of cremona dan dicetak ulang di Genua (1497 M), Basle (1541 M) dan di oxford (1778 M). Beberapa abad lamanya buku tersebut menjadi literatur di universitas universitas Eropa.

Kegemaran mempelajari Hadits menumbuhkan kecenderungan untuk

menekuni sejarah. Aktivitas pengumpulan Hadits melahirkan minat untuk

menghimpun kisah Rasulullah saw, yang dalam tahap berikutnya telah melahirkan usaha ke arah penulisan sejarah yang lebih luas. sejarawan Andalusia terkemuka pada masa awal di antaranya Abu Marwan Abd al-Malik ibn Habib (w. 238/852), seorang penyair yang juga ahli dalam ilmu Nahwu dan Arudl. Mula-mula ia tinggal di Elvira dan cordova, kemudian mempelajari Hadits dan Fiqh Maliki di timur. ia menulis dalam berbagai bidang ilmu, di antaranya sejarah yang salah satu bukunya berjudul al-Tarikh. Buku ini menyerupai model Tarikh al-Thabari. Isi buku ini dimulai dengan pembicaraan mengenai permulaan bumi dan langit diciptakan, sampai kepada penaklukan Andalusia oleh umat Islam. Tampak sekali pengaruh Israiliyat terhadap isi ceritera buku tersebut.

Sejarawan lainnya ialah Yahya ibn Hakam, seorang penyair yang dikenal

dengan al-Ghazzal dan Muhammad ibn Musa al-Razi (w.273/886); yang disebut

terakhir ini mulai menetap di Andalusia pada tahun 250/863. Setelah itu muncul

Abu Bakar Muhammad ibn Umar yang lebih dikenal dengan Ibn al-quthiyah (w.

367/977). Bukunya yang berjudul tarikh lftitah al-Andalus memiliki nilai

tersendiri, karena penafsirannya mengenai peristiwa-peristiwa di Spanyol yang

sebelumnya tidak diketahui oleh orang Arab. Isi buku ini dimulai dari

penaklukan Andalusia sampai masa pemerintahan Abd al-Rahman III al-

Nashir. Sezaman dengan Ibn al-Quthiyah ialah Uraib ibn Saad (w. 369/979).

Moyangnya adalah keturunan Nasrani cordova yang sudah masuk Islam. Ia

meringkas Tarikh al-Thabari dan menambahkan kepadanya tentang Maghrib dan Andalusia, di samping memberi catatan indek terhadap buku tersebut.

Sejarawan lainnya yang juga tidak bisa dikesampingkan ialah Hayyan ibn

Khallaf  ibn Hayyan (w.469/1076). Ia adalah sastrawan kenamaan di samping

sebagai seorang sejarawan besar pada masanya. Banyak buku yang ia tulis,

tetapi hanya dua judul yang masih bisa dikenal, yaitu al-Muqtabis fi Tarikh Rijal al-Andalus dan al-Matin. Al-Muqtabis yang isinya dimulai dari ceritera tentang penaklukan Andalusia itu, terdiri dari sepuluh jilid. tetapi hanya tiga jilid yang bisa ditemukan. Adapun al-Matin terdiri dari 60 jilid, dan hanya bagian kecil yang dikutip oleh Ibn Bassam dalam al-Dakhirah, yang masih bisa diketahui. Ia juga dikenal sebagai ahli ilmu bumi. Hal ini tampak jelas ketika ia

menceriterakan tentang kota al-Zahra yang dibangun oleh al-Nashir.

Seorang lagi penulis biografi kelahiran Cordova, bernama Abu al-Walid

Abdullah bin Muhammad ibn al-Faradli. Ia dilahirkan pada tahun 351/962 dan

pernah menjabat sebagai qadli di Valencia sampai wafat pada tahun 403/1013.

Salah satu bukunya yang berjudul Tarikh Ulama’i al-Andalus dilengkapi oleh

Ibn Basykuwal Abu al-Qasim Khalif  ibn Abd al-Malik, dengan judul Kitab al-

Shilah fi Tarikh A’immah al-Andalus dan diterbitkan pada tahun 533/1139. Al Shilah dilengkapi lagi oleh Abu Abdillah Muhammad ibn al-Abrar (1199-1260),

dengan judul al-Takmilah li Kitab al-Shitah.

Masih banyak lagi sejarawan terkenal, seperti Ibn Abd Rabbih, Ibn Hazm

dan lain-lain yang sudah disinggung di muka. Yang menarik dari uraian di atas,

ialah bahwa setiap sarjana pada waktu itu dapat mahir bahkan menjadi ahli

dalam berbagai cabang ilmu. Seorang filosuf misalnya, secara serentak ia juga

sebagai astronomer, penyair atau musikus; seorang sejarawan bisa menjadi ahli

fiqh. ahli bahasa, theolog, dokter, ahli filsafat dan sebagainya. Hal ini dikarenakan, “penuntutan ilmu di dalam dunia kuno dari Abad Pertengahan – teristimewa dalam dunia Islam jauh berkurang spesialisasinya  dibanding dengan kebiasaan orang zaman sekarang”.

Prestasi umat Islam dalam memajukan ilmu pengetahuan tidak diperoleh

secara kebetulan, meiainkan dengan kerja keras melalui beberapa tahapan sistem pengembangan. Mula-mula dilakukan penerjemahan kitab-kitab klasik yunani, Romawi, India dan Persia, kemudian dilakukan pensyarahan dan komentar terhadap terjemahan-terjemahan tersebut, sehingga lahir komentator-komentator muslim kenamaan. Setelah itu dilakukan koreksi terhadap teori-teori yang sudah ada, yang acapkali melahirkan teori baru sebagai hasil renungan pemikir-pemikir muslim sendiri. oleh karena itu, umat Islam tidak hanya berperan sebagai jembatan penghubung warisan budaya lama dari zaman klasik ke zaman baru, melainkan telah berjasa pula menemukan teori-teori baru. Terlalu banyak teori orisinil temuan mereka yang besar sekali artinya sebagai dasar ilmu pengetahuan modern. Tahapan-tahapan seperti ini terbatas dalam pengembangan ilmu aqliyah, tidak dalam ilmu naqliyah.

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak

terlepas kaitannya dari kerjasama yang harmonis antara penguasa, hartawan dan

ulama. umat Islam di negara-negara Islam waktu itu berkeyakinan bahwa

memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan umumnya, merupakan salah satu

kewajiban pemerintahan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan akan ilmu

pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan hasrat

untuk mengadakan perpustakaan-perpustakaan, di samping mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. sekolah dan perpustakaan, baik perpustakaan umum  maupun perpustakaan pribadi, banyak dibangun di berbagai penjuru kerajaan, sejak dari kota-kota besar sampai ke desa desa. cordova yang oleh philip K. Hitti dijuluki Mutiara Dunia, pada masa al-Mustanshir memiliki tidak kurang dari 800 buah sekolah, 70 perpustakaan pribadi di samping perpustakaan

umum. Al-Mustanshir konon berhasil mengumpulkan buku sebanyak 400.000.

eksemplar untuk perpustakaannya, baik dengan cara membeli maupun menyalin

dari naskah aslinya. Untuk keperluan itu ia telah mengirim agen-agennya ke

Iskandariyah, Damaskus maupun Bagdad. Judul-judul buku itu dimuat dalam

katalog yang terdiri dari 44 bagian: setiap bagian memuat 20 halaman tentang

karangan yang merupakan syair. Ketika ia mendengar bahwa di Irak Abu ar-

Faraj al-Isbahani sedang menyusun Kitab al-Aghani, iamengirimkan uang 1.000

dinar kepada pengarangnya, untuk mendapatkan copy pertama dari buku

tersebut. oleh karena itu, kitab al-Aghani ini lebih dulu dibaca orang di Andalusia daripada di Irak di mana pengarangnya berada.

Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat

maju, sehingga hampir tidak ada seorang pun penduduknya yang buta huruf.

Dalam pada itu, Eropa Kristen baru mengenal asas-asas pertama ilmu pengetahuan, itu pun terbatas hanya pada beberapa orang pendeta saja. Dari

Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban Arab mengalir ke negara-negara

Eropa Kristen, melalui keompok-kelompok terpelajar mereka yang pernah,

menuntut ilmu di universitas cordova, Maraga, Granada, sevilla atau lembaga lembaga ilmu pengetahuan lainnya di Andalusia. Dengan demikian, besar sekali

peranan Andalusia dalam mengantarkan Eropa memasuki periode baru masa

kebangkitan.

 

Iklan
0

paper good gaverment

KATA PENGANTAR

 

Pertama kita panjatkan puja dan puji kepada Allah SWT yang telah memberi kesehatan jasmani dan rohani sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.Kedua kalinya mari kita membaca sholawat kejunjungan Nabi agung Nabi akhir zaman yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman Jahiliyah ke zaman Islamiyyah dan semoga di Yaumul Qiyamah kita mendapat syafaat beliau Amin.

Tugas ini disusun untuk mengetahui bagaimana pemerintahan yang baik untuk rakyat karena sistem pemerintahan yang baik dapat mengacu kepada kesejahteraan yang baik, banyak berbagai rintangan yang datang dari penyusun atau pun dari luar  tetapi Alhamdulillah dapat terseleikan walaupun belum sempurna.

Tugas ini memuat tentang “ pemerintahan yang baik “karena ada keterikatan pemerintahan dengan masyarakat menyebabkan sangat menarik untuk dibahas dengan melihat kenyataan yanga terjadi di negara indonesia ini,banyak problematika diantaranya KKN ,ANARKIS dan KORUPSI.

Ucapan terima kasih untuk para dosen yang selama ini mengajarkan tentang pendidikan dalam segala hal, sehingga kita bisa memilih mana yang harus kita lakukan ketika di dalam unsur pemerintahan itu sendiri dan tidak lupa dengan perpedoman Agama.

Semoga tugas ini bermanfaat bagi kita semua terutama bagiku sebab bagaimana penerapan  pemerintahan yang baik dan upaya untuk mencapainya itu diperlukan penghayatan yang mendalam bukan hanya sudah hafal tetapi harus diterapkan dalam hidup kita.

Sekian dahulu apabila ada kesalahan itu atas kesalahan diri yang hina ini.Semua kebaikan datang dari Allah .Mohon maaf  apabila ada tulisan yang tidak berkenan di hati para pembaca.

 

 

penulis

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR                                                                            1

DAFTAR ISI                                                                                           2

 

BAB 1 PENDAHULUAN                                                                     3

A. LATAR  BELAKANG MASALAH                                                      3

B. IDENTIFIKASI MASALAH                                                                 4

C  PEMBATASAN MASALAH                                                                4

D. PERUMUSAN MASALAH                                                                            4

BAB 11 PEMBAHASAN                                                                      5

A. TUJUAN PEMERINTAHAN YANG BAIK                                         9

B. ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK                                 9

C.  UPAYA MENINGKATKAN PEMERINTAHAN YANG BAIK                   10

BAB 111 PENUTUP                                                                              11

A .SIMPULAN                                                                                           11

B .SARAN                                                                                                  11

DAFTAR PUSAKA                                                                                11

 

 

 

BAB I

 PEDAHULUAN

 

A.LATAR BELAKANG MASALAH

Sistem perintahan selalu berubah, bagaimana pengaruh perubahan tersebut bagi masyarakat  karena pemerintah sangat  berpengaruh  bagi rakyat contohnya para mahasiswa demo di jalan itu karena kinerja pemerintahan tidak menimbulkan dampak positif ,malah sekarang demonya berbau anarkis dan perusakan, dari kejadian ini siapa yang rugi dan salah siapa?

pasti semua tidak mau disalahkan sebab mereka menganggap argumennya sudah benar tanpa ada rasa rendah diri untuk mencapi kesepakatan jalan temu dimanakah nilai musyawarah dan nilai demokarasi bagi masyarakat. Masalah korupsi juga semakin maraknya dikalangan para penguasa ini dikarenakan tidak adanya pengetauan tentang asas umum dan upaya untuk menjadikan pemerintahan yang baik dalam jiwa mereka walaupun sudah , tetapi masih menyepelekan. Alasanya adalah pondasi agama mereka kurang merekat dalam hati.

Dengan demikian  diperlukan tata laksana pemerintahan yang baik untuk menciptakan keharmonisan antara pemerintah dengan masyarakat sehingga dapat terjalin pengaruh baik antara keduanya.Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apa itu perintahan yang baik? Apa asas umum pemerintahan yang baik? Dan apa upaya yang yang dilakukan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik?

 

 

 

 

 

 

B. IDENTIFIKASI MASALAH (LATAR BELAKANG)

Sesuai dengan judul makalah ini “pemerintahan yang baik”terkait dengan ini sangat diperlukan penghanyatan dalam memahaminya.Maka masalahnya dapat didefinisikan sebagai berikut:

1.Bagaiman peran pemerintahan yang baik ?

2.Bagaimana pemerintahan yang baik bedasarkan asas umum dan upayanya?

 

C. PEMBATASAN MASALAH

Untuk memperjelas luas lingkup pembahasa,maka pembatasan masalah dibatasi pada masalah:

A. Peran pemerintahan yang baik.

B. asas umum dan upayanya.

 

D.PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, Masalah –masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut

1. Bagaimana deskripsi pemerintahan yang baik ?

2. Bagaimana deskripsi asas dan upaya pemerintahan yang baik?

 

BAB II

PEMBAHASAN

Pemerintah mengandung arti suatu kelembagaan atau organisasi yang menjalankan kekuasaan pemerintahan, sedangkan pemerintahan adalah proses berlangsungnya kegiatan atau perbuatan pemerintah dalam mengatur kekuasaan suatu negara. Penguasa dalam hal ini pemerintah yang menyelenggarakan pemerintahan, melaksanakan penyelenggaraan kepentingan umum, yang dijalankan oleh penguasa administrasi negara yang harus mempunyai wewenang. Seiring dengan perkembangan, fungsi pemerintahan ikut berkembang, dahulu fungsi pemerintah hanya membuat dan mempertahankan hukum, akan tetapi pemerintah tidak hanya melaksanakan undang-undang tetapi berfungsi juga untuk merealisasikan kehendak negara dan menyelenggarakan kepentingan umum (public sevice). Perubahan paradigma pemerintahan dari penguasa menjadi pelayanan, pada dasarnya pemerintah berkeinginan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.

Sistem kepemerintahan yang baik adalah partisipasi, yang menyatakan semua institusi governance memiliki suara dalam pembuatan keputusan, hal ini merupakan landasan legitimasi dalam sistem demokrasi, good governance memiliki kerangka pemikiran yang sejalan dengan demokrasi dimana pemerintahan dijalankan sepenuhnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemerintah yang demokratis tentu akan mengutamakan kepentingan rakyat, sehingga dalam pemerintahan yang demokratis tersebut penyediaan kebutuhan dan pelayanan publik merupakan hal yang paling diutamakan dan merupakan ciri utama dari good governance.

Meskipun diketahui bahwa penyelenggaraan negara dilakukan oleh beberapa lembaga negara, akan tetapi aspek penting penyelenggaraan negara terletak pada aspek pemerintahan. Dalam sistem pemerintahan Indonesia, Presiden memiliki dua kedudukan, sebagai salah satu organ negara yang bertindak untuk dan atas nama negara, dan sebagai penyelenggara pemerintahan atau sebagai administrasi negara. Sebagai administrasi negara, pemerintah diberi wewenang baik berdasarkan atribusi, delegasi, ataupun mandat untuk melakukan pembangunan dalam rangka merealisir tujuan-tujuan negara yang telah ditetapkan oleh MPR. Dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah berwenang untuk melakukan pengaturan dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Agar tindakan pemerintah dalam menjalankan pembangunan dan melakukan pengaturan serta pelayanan ini berjalan dengan baik, maka harus didasarkan pada aturan hukum. Di antara hukum yang ada ialah Hukum Administrasi Negara, yang memiliki fungsi normatif, fungsi instrumental, dan fungsi jaminan. Seperti telah disebutkan di atas, fungsi normatif yang menyangkut penormaan kekuasaan memerintah berkaitan dengan fungsi instrumental yang menetapkan instrumen yang digunakan oleh pemerintah untuk menggunakan kekuasaan memerintah dan norma pemerintahan dan instrumen pemerintahan yang digunakan harus menjamin perlindungan hukum bagi rakyat.

Ketika pemerintah akan menjalankan pemerintahan, maka kepada pemerintah diberikan kekuasaan, yang dengan kekuasaan ini pemerintah melaksanakan pembangunan, pengaturan dan pelayanan. Agar kekuasaan ini digunakan sesuai dengan tujuan diberikannya, maka diperlukan norma-norma pengatur dan pengarah. Dalam Penyelenggaraan pembangunan, pengaturan, dan pelayanan, pemerintah menggunakan berbagai instrumen yuridis. Pembuatan dan pelaksanaan instrumen yuridis ini harus didasarkan pada legalitas dengan mengikuti dan mematuhi persyaratan formal dan metarial. Dengan didasarkan pada asas legalitas dan mengikuti persyaratan, maka perlindungan bagi administrasi negara dan warga masyarakat akan terjamin. Dengan demikian, pelaksanaan fungsi-fungsi HAM adalah dengan membuat penormaan kekuasaan, mendasarkan pada asas legalitas dan persyaratan, sehingga memberikan jaminan perlindungan baik bagi administrasi negara maupun warga masyarakat.

Berdasarkan undang – undang dasar 1945 sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan kekuasaan belaka.
2. Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas)
3. Kekuasaan Negara yang tertinggi berada di tangan majelis permusyawaratan rakyat.
4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi dibawah MPR. Dalam menjalankan pemerintahan Negara kekuasaan dan tanggung jawab adalah ditangan prsiden.
5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden harus mendapat persetujuan dewan perwakilan rakyat dalam membentuk undang – undang dan untuk menetapkan anggaran dan belanja Negara.
6. Menteri Negara adalah pembantu presiden yang mengangkat dan memberhentikan mentri Negara. Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR.
7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas. presiden harus memperhatikan dengan sungguh – sungguh usaha DPR.

Kekuasaan pemerintahan Negara Indonesia menurut undang–undang dasar 1 sampai dengan pasal 16. pasal 19 sampai dengan pasal 23 ayat (1) dan ayat (5),serta pasal 24 adalah:
1. Kekuasaan menjalan perundang – undangan Negara atau kekuasaan eksekutif yang dilakukan oleh pemerintah.
2. Kekuasaan memberikan pertimbangan kenegaraan kepada pemerintah atau kekuasaan konsultatif yang dilakukan oleh DPA.
3. Kekuasaan membentuk perundang – undang Negara atau kekuasaan legislatif yang dilakukan oleh DPR.
4. Kekuasaan mengadakan pemeriksaan keuangan Negara atau kekuasaan eksaminatif atau kekuasaan inspektif yang dilakukan oleh BPK.
5. Kekuasaan mempertahankan perundang – undangan Negara atau kekuasaan yudikatif yang dilakukan oleh MA.

Berdasarkan ketetapan MPR nomor III / MPR/1978 tentang kedudukan dan hubungan tata kerja lembaga tertinggi Negara dengan atau antara Lembaga – lembaga Tinggi Negara ialah sebagai berikut.
1. Lembaga tertinggi Negara adalah majelis permusyawaratan rakyat. MPR sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam Negara dengan pelaksana kedaulatan rakyat memilih dan mengangkat presiden atau mandataris dan wakil presiden untuk melaksanakan garis – garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan putusan – putusan MPR lainnya. MPR dapat pula diberhentikan presiden sebelum masa jabatan berakhir atas permintaan sendiri, berhalangan tetap sesuai dengan pasal 8 UUD 1945, atau sungguh – sungguh melanggar haluan Negara yang ditetapkan oleh MPR.
2. Lembaga – lembaga tinggi Negara sesuai dengan urutan yang terdapat dalam UUD 1945 ialah presiden (pasal 4 – 15), DPA (pasal 16), DPR (pasal 19-22), BPK (pasal 23), dan MA (pasal 24).
a. Presiden adalah penyelenggara kekuasaan pemerintahan tertinggi dibawah MPR. Dalam melaksanakan kegiatannya dibantu oleh seorang wakil presiden. Presiden atas nama pemerintah (eksekutif) bersama – sama dengan DPR membentuk UU termasuk menetapkan APBN. Dengan persetujuan DPR, presiden dapat menyatakan perang.
b. Dewan pertimbangan Agung (DPA) adalah sebuah bahan penasehat pemerintah yang berkewajiban memberi jawaban atas pertanyaan presien. Selain itu DPA berhak mengajukan pertimbangan kepada presiden.
c. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah sebauh badan legislative yang dipilih oleh masyarakat berkewajiban selain bersama – sama dengan presiden membuat UU juga wajib mengawasi tindakkan – tindakan presiden dalam pelaksanaan haluan Negara.
d. Badan pemeriksa keuangan (BPK) ialah Badan yang memeriksa tanggung jawab tentang keuangan Negara. Dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. BPK memriksa semua pelaksanaan APBN. Hasil pemeriksaannya dilaporkan kepada DPR.
e. Mehkamah Agung (MA) adalah Badan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman yang dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh lainnya. MA dapat mempertimbangkan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak diminta kepada kepada lembaga – lembaga tinggi Negara.

Untuk memperjelas bagaimana hubungan antara lembaga tertinggi Negara dengan lembaga tinggi Negara dan lembaga tinggi Negara dengan lembaga tinggi Negara lainnya menurut UUD 1945, perhatikan dengan seksama bagan – bagan dibawah ini yang di elaborasi oleh kansil.:

EKSEKUTIF
Kekuasaan pemerintah (eksekutif) diatur dalam UUD 1945 pada BAB II pasal 4 sampai dengan pasal 15. Pemerintahan republic Indonesia terdiri dari Aparatur pemerintah republic Indonesia terdiri dari Aparatur Pemerintah Pusat, Aperatur Pemrintah daerah dan usaha – usaha Negara. Aperatur pemrintah pusat terdiri dari :
a. Kepresidenan beserta Aparatur utamanya meliputi :
1) Presiden sebagai kepala Negara merangkap kepala pemerintahan (eksekutif).
2) Wakil presiden
3) Menteri – menteri Negara / lembaga non departemen. Menurut keputusan prsiden Republik Indonesia nomor 102 Tahun 2001 tanggal 13 september 2001 bahwa departemen merupakan unsure pelaksana pemerintah yang di pimpin oleh seorang menteri Negara yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Departemen luar negeri, departemen pertahanan dan dewpartemen lainnya.
4) Kejaksaan agung
5) Sekretariat Negara
6) Dewan – dewan nasional
7) Lembaga – lembaga non departemen menurut keputusan presiden RI nomor 166 tahun 2000, seperti publik Indonesia (ANRI), LAN, BKN, dan perpunas, dan lain – lain.

A. Tujuan Pemerintahan yang Baik

Penyelenggaraan pemerintahan yang baik  bertujuan  kepada terciptanya fungsi pelayanan publik, pemerintahan yang baik cenderung menciptakan terselenggaranya fungsi pelayanan publik dengan baik pula, sebaliknya pemerintahan yang buruk mengakibatkan fungsi pelayanan publik tidak dapat terselenggara dengan baik. Dalam hal ini juga pemerintah diperbolehkan untuk melakukan intervensi dalam kehidupan masyarakat dengan konsep negara kesejahteraan (welvaartstaat) melalui instrumen hukum yang mendukungnya, hal ini boleh dilakukan agar dapat terlaksananya pelayanan publik dengan baik serta terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat. Sebagai konsumen dalam pelayanan publik welvaartstaat ini sangat berkaitan dengan kebijakan pemerintah sebagai penyelenggara dalam pelayanan publik.

 

 

B. Asas Umum Pemerintahan yang Baik

Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (algemene beginselen van behoorlijk bestuur) . Asas ini merupakan jembatan antara norma hukum dan norma etika yang merupakan norma tidak tertulis, Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) merupakan suatu bagian yang pokok bagi pelaksanaan atau realisasi Hukum Tata Pemerintahan atau Administrasi Negara dan merupakan suatu bagian yang penting sekali bagi perwujudan pemerintahan negara dalam arti luas. Asas ini digunakan oleh para aparatur penyelenggaraan kekuasaan negara dalam menentukan perumusan kebijakan publik pada umumnya serta pengambilan keputusan pada khususnya, jadi Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) ini diterapkan secara tidak langsung sebagai salah satu dasar penilaian.

Asas ini merupakan kaidah hukum tidak tertulis sebagai pencerminan norma-norma etis berpemerintahan yang wajib diperhatikan dan dipatuhi, disamping mendasarkan pada kaidah-kaidah hukum tertulis. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa asas diantaranya dapat disisipkan dalam berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan dan menjadi tolok ukur bagi hakim dalam hal mengadili perkara gugatan terhadap pemerintah mengenai perbuatan melawan hukum oleh penguasa. Asas ini juga dapat dipahami sebagai asas-asas umum yang dijadikan sebagai dasar dan tata cara dalam penyelenggaraan pemerintahan yang layak, yang dengan cara demikian penyelenggaran pemerintahan itu menjadi lebih baik, sopan, adil, terhormat, bebas dari kezaliman, pelanggaran peraturan, tindakan penyalahgunaan wewenang dan tindakan sewenang-wenang.

 

 

C . Upaya Meningkatkan  Pemerintahan yang Baik

Penyelenggaraan pemerintahan tidak selalu berjalan sebagaimana yang telah ditentukan oleh aturan yang ada. Bahkan sering terjadi penyelenggaraan pemerintahan ini menimbulkan kerugian bagi rakyat baik akibat penyalahgunaan wewenang (detournement de pouvoir) maupun tindakan sewenang-wenang (willekeur). Perbuatan pemerintah yang sewenang-wenang terjadi apabila terpenuhi unsur-unsur; pertama, penguasa yang berbuat secara yuridis memeliki kewenangan untuk berbuat (ada peraturan dasarnya); kedua, dalam mempertimbangkan yang terkait dalam keputusan yang dibuat oleh pemerintah, unsur kepentingan umum kurang diperhatikan; ketiga, perbuatan tersebut menimbulkan kerugian konkret bagi pihak tertentu.37 Dampak lain dari penyelenggaraan pemerintahan seperti ini adalah tidak terselenggaranya pembangunan dengan baik dan tidak terlaksananya pengaturan dan pelayanan terhadap masyarakat sebagaimana mestinya. Keadaan ini menunjukan penyelenggaraan pemerintahan belum berjalan dengan baik. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan adalah antara lain dengan mengefektifkan pengawasan baik melalui pengawasan lembaga peradilan, pengawasan dari masyarakat, maupun pengawasan melalui lembaga ombusdman. Di samping itu juga dengan menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang baik contohya Asas kekeluargaan dan kerukunan.

BAB 111

PENUTUP

  1. SIMPULAN

Upaya meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan  yang baik antara lain dengan pengawasan lembaga peradilan, pengawasan masyarakat, dan pengawasan melalui lembaga ombusdman. Di samping itu juga dengan menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang baik.disamping itu juga jangan keluar dari tujuan,asas dan upaya untuk menjadikan pemerintahan itu menjadi semakin baik.

  1. SARAN

Pengawasan dari berbagai aspek harus ditekankan dan di jalankan dengan baik sehingga tidak ada kecurangan yang terjadi contohnyapengawasan lembaga peradilan, masyarakat, dan lembaga ombusdmen dilakukan dengan efektif. Di samping itu, pemerintah sebaiknya memperhatikan dan menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang baik (algemene beginselen van be-horlijk bestuur).

 

Daftar pusaka

Kansil,C.S.T.,Sistem Pemerintahan Indonesia, Jakarta: Aksara baru,1979

Ali,Saed,As’ad,Negara Pancasila Jalan kemaslahatan Berbangsa,Jakarta:PustakaLP3ES Indonesia,2010

0

ARSITEKTUR ISLAM DI JAWA

ARSITEKTUR ISLAM DI JAWA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Arsitektur Islam di Jawa, pada hakikatnya, tidak terlepas dari keberadaan kebudayaan dan tradisi yang sudah ada sebelum Islam masuk di wilayah ini. Tidak mengherankan, bila di masa-masa awal masuknya Islam di tanah Jawa, bentuk-bentuk masjid masih menggunakan gaya arsitektur tradisional yang cenderung bernuansa Hinduisme. Itu tampak seperti pada penggunaan atap tajuk dan pemakaian mustaka pada puncak atapnya. Bahkan, pada beberapa masjid, ada yang memiliki pendopo didepan masjid atau serambi masjid. Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Untuk lebih lanjutnya mengenai sejarah dan akulturasi arsitektur Islam di Jawa akan dipaparkan dalam makalah ini.

 

1.2.  RUMUSAN MASALAH         

A. Bagaimana sejarah adanya arsitektur Islam?

B. Bagaimana pola internalisasi arsitektur Islam Jawa?

 

1.3  Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan gambaran mengenai akulturasi.
  2. Untuk mengetahui sejarah arsitektur dalam islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.  Sejarah Arsitektur dalam Islam

Melihat kembali sejarah peradaban Islam, menurut Seyyed Hossein Nasr arsitektur suci Islam yang paling awal adalah Ka’bah, dengan titik poros langit yangmenembus  bumi. Monumen  primordial  yang dibangun  oleh  Nabi  Adam  dankemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim ini, merupakan refleksi duniawi darimonumen surgawi yang juga terpantul dalam hati manusia. Keselarasan dimensi-dimensi Ka’bah, keseimbangan dan simetrinya, pusat dari kosmos Islam, dapatditemukan dalam arsitektur suci di seluruh dunia Islam.[1] Menurut Abdul Rochim,yang dianggap sebagai cikal bakal arsitektur dalam Islam adalah masjid, hal ini didasarkan dengan dibangunnya masjid Quba oleh Rasulullah SAW sebgai masjidyang pertama.[2]

Masjid Quba disebut para ahli sebagai masjid Arab asli dengan bangunanyang awal  mula berdirinya  berupa bangunan  yang sangat sederhana,  dengan lapangan terbuka sebagai intinya, dan penempatan mimbar pada sisi dinding arah kiblat, serta di tengah-tengah lapangan terdapat sumber air untuk tujuan bersuci.Bentuk bangunan dengan corak lapangan ini kemudian dijadikan dasar dalam pembangunan masjid di berbagai wilayah Islam. Sejalan dengan perkembangan Islam yang pesat dan menyebar di berbagai wilayah, bangunan masjid pun tumbuh di  berbagai  wilayah  Islam  tersebut.  Bangunan  masjid  di  berbagai  wilayah mengalami penambahan ornamen-ornamen seni untuk menambah unsur estetik masjid seperti hiasan kaligrafi pada interior masjid, penambahan menara yang digunakan untuk menyeru orang-orang beriman untuk shalat, dan adanya makam disekitar masjid. Masjid menjadi bangunan yang penting dalam syiar Islam, untuk itu masjid dijadikan sebagai sarana penanaman budaya Islam sehingga dalam pengertian ini terjadilah pertemuan dua unsur dasar kebudayaan, yakni kebudayaan yang dibawa oleh para penyebar Islam yang  terpateri oleh ajaran Islam dan kebudayaan lamayang telah dimilki oleh masyarakat setempat. Di sini terjadilah asimilasi yangmerupakan keterpaduan antara kecerdasan kekuatan watak yang disertai oleh spiritIslam  yang  kemudian  memunculkan  kebudayaan  baru  yang  kreatif,  yangmenandakan kemajuan pemikiran dan peradabannya. Oleh karenanya keragamanbentuk arsitektur masjid jika dilihat dari satu sisi merupakan pengayaan terhadapkhasanah arsitektur Islam. Arsitektur masjid yang bernuansa lokal secara psikologistelah mendekatkan masyarakat setempat pada Islam. Tampilan arsitektur Islam tidak lagi hanya masjid , tetapi telah tampil dalam bentuk karya fisik yang lebih luas , halini karena masjid sebagai arsitektur Islam merupakan manifestasi keyakinan agama seseorang.

 

2.2. Pola Internalisasi Arsitektur Islam Jawa

Arsitektur Islam di Jawa, pada hakikatnya, tidak terlepas dari keberadaan kebudayaan dan tradisi yang sudah ada sebelum Islam masuk di wilayah ini. Tidak mengherankan, bila di masa-masa awal masuknya Islam di tanah Jawa, bentuk-bentuk masjid masih menggunakan gaya arsitektur tradisional yang cenderung bernuansa  Hinduisme.  Itu  tampak  seperti  pada  penggunaan  atap  tajuk  dan pemakaian mustaka pada puncak atapnya. Bahkan, pada beberapa masjid, ada yang memiliki pendopo di depan masjid atau serambi masjid. Tidak itu saja, karena masuknya Islam ke Jawa juga berkaitan dengan kekuasaan raja-raja pada masanya sehingga menghasilkan bangunan masjid yang cukup megah pada zamannya dengan kekhasan tersendiri. Perpaduan itu tampak, misalnya, dari bangunan masjid yang ada dalam lingkungan keraton. Umumnya, sebuah kerajaan Islam memiliki keraton yangberdampingan dengan masjid Pertimbangan memadukan unsur-unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur  Islam,  khususnya  di  Jawa.  Apalagi,  dalam  sejarahnya,  pada  awal perkembangan agama Islam di Jawa, penyebaran Islam dilakukan dengan proses selektif tanpa kekerasan sehingga sebagian nilai-nilai lama masih tetap diterima untuk dikembangkan.Internalisasi Islam dalam arsitektur di Jawa sebenarnya sudah dapat dilihat sejak awal Islam masuk di Jawa. Mengingat bahwa salah satu saluran penyebaran Islam di Jawa dilakukan melalui karya seni arsitektur, diantaranya adalah bangunan masjid.[3]

Kalau dilihat dari masa pembangunannya, masjid sangat dipengaruhi pada budaya yang masuk pada daerah itu. Masjid dulu, khususnya di daerah pulau Jawa,memiliki bentuk yang hampir sama dengan candi Hindu – Budha. Hal ini karena terjadi akulturasi budaya antara budaya setempat dengan budaya luar. Ketika Islam masuk di Jawa keberadaan arsitektur Jawa  yang telah berkembang dalam konsep dan filosofi Jawa tidak dapat dinafikan oleh Islam. Jadi,agar Islam dapat diterima sebagai agama orang Jawa, maka simbol-simbol Islamhadir dalam bingkai budaya dan konsep Jawa, yang kemudian memunculkan kreativitas baru sebagai hasil berasimilasinya dua kebudayaan dan sekaligus sebagai pengakuan akan keberadaan keunggulan muslim Jawa dalam karya arsitektur.[4]

Arsitektur  masjid dan menara

Ekspresi estetik Islam tergambarkan dalam arsitek masjid-masjid tua. Citra masjid tua adalah contoh dari interaksi agama dengan tradisi arsitek pra-Islam di Jawa dengan kontruksi kayu dan atap tumpang berbentuk limas. Seperti Masjid Demak, Masjid Kudus, Masjid Cirebon, dan Masjid Banten sebagai cikal bakal masjid di Jawa. Menurut Nurcholis Madjid, arsitektur masjid Indonesia banyak diilhami oleh gaya arsitektur kuil hindu yang atapnya bertingkat tiga. Seni arsitektur itu sering ditafsirkan sebagai lambang tiga jenjang perkembangan penghayatankeagamaan manusia, yaitu tingkat dasar atau permulaan (purwa), tingkat menengah( madya ), dan tingkat akhir yang maju dan tinggi (wusana). Gambaran itu dianggapsejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan. Selain itu, hal itu dianggapsejajar dengan syariat, thariqat, dan ma’rifat .[5] Di tanah Jawa, banyak arsitektur masjid  yang  masih  mempertahankan arsitektur budaya Jawa.  Berikut  akan dipaparkan arsitektur budaya jawa di beberapa masjid di Jawa.

Masjid Kudus, salah satu masjid yang bercorak khas Jawa , hal ini dapat dilihat dari bangunan masjid yang memakai bentuk atap bertingkat/tumpang, dan pondasi persegi. Bentuk bangunan masjid dengan model atap tiga ini diterjemahkan seperti yang sudah disebutkan pemakalah tadi di atas sebagai lambang keislaman seseorang yang ditopang oleh tiga aspek, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Yang paling monumental dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah terlupakan. Bentuk  ini  tidak  akan kita temui kemiripannya dengan berbagai menara masjid di seluruh dunia. Keberadaannya yang tanpa-padanan karena bentuk  arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid  itulah yang menjadikannya begitu mempesona.  Bangunan menaraberketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar inisecara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Halini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan materialbatu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.[6] Bentuk bangunan menara masjid Kudus yang demikian dimaksudkan untuk menarik simpati masyarakat Hindu pada waktu itu untuk memeluk Islam.

Masjid Agung Demak, arsitektur bangunan Masjid Agung Demak sedikit banyak  dipengaruhi corak budaya Bali yang dipadu dengan langgam  rumah tradisional Jawa Tengah. Ini mengindikasikan bahwa pembuatnya adalah arsitek pribumi yang tidak dapat meninggalkan unsur-unsur kebudayaan sendiri di masanya.Kedekatan arsitektur Masjid Demak dengan bangunan Majapahit bisa disimak padabentuk atapnya. Kubah yang identik dengan ciri masjid sebagai bangunan Islammalah tak digunakan. Bentuknya justru mengadopsi bangunan peribadatan agamaHindu.  Ini  merupakan  upaya  membumikan  Masjid  Demak  sebagai  saranapenyebaran agama Islam. Bentuk atap yang dipakai adalah tajuk tumpang tiga.Bagian paling bawah menaungi ruangan berdenah segi empat. Atap bagian tengahmengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di bawahnya. Sedangkan,atap tertinggi berbentuk limasan dengan tambahan hiasan mahkota pada puncaknya.Komposisi ini mirip meru, bangunan tersuci di pura Hindu. Kesamaan bentuk atapini memberikan petunjuk adanya akulturasi antara unsur bangunan kebudayaanIslam dengan Hindu-Buddha pada masa itu. Arsitektur menara Masjid AgungDemak berbentuk candi yang bercorak Hindu Majapahit.

Dalam perjalan waktu, perpaduan budaya masih tetap mewarnai arsitektur Islam di Jawa. Hingga kini, bangunan masjid yang kerap dimanifestasikan sebagaiarsitektur Islam–tidak terlepas dari perpaduan budaya setempat dengan budayalainnya. Itu bisa dilihat dari bangunan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yangdiresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11  November 2006.Arsitektur masjid yang terletak di Jalan Gajah Raya, Semarang, ini merupakanperpaduan antara arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani.

Konsep bangunan tersebut menggabungkan arsitektur Jawa, Islam,dan Roma. Pemilihan  warna ataupun penataan interior masjid dirancang dengan bentuk dan hiasan yang didominasi olehpengaruh dua budaya: Jawa dan Islam. Bentuk kubah, lengkungan, geometri bintangdelapan, dan kaligrafi yang ada dalam masjid mencerminkan budaya Islam. Masjidyang mampu menampung 15.000 jamaah ini mempunyai konsep yang diterjemahkandalam tradisi candra sengkala. Pesan dalam candra sengkala yang dipadu dalam kalimat “Sucining  guna gapuraning  gusti” (4391-1934 Jawa atau 2001 tahun Masehi Miladiyah) menandai awal terbesitnya niat untuk mulai membangun masjid mutiaratanah Jawa itu.[7]

Makam

Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudayaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. Di Jawa, makam merupakan salah satu tempat yang dianggap sakral, bahkan sebagian cenderung dikeramatkan. Dilihat dari corak arsitekturnya terdapat beberapa bentuk. Ada yang sederhanadengan hanya ditandaibatu nisan seperti makam Fatimah binti Maimun, 1428, atau makam Maulana Malik Ibrahim di gresik, 1419. Ada pula yang diberi cungkup dan diberi hiasan-hiasan dan kelambu seperti makam Sunan Kudus, raden Patah dan Sunan Kalijaga di Demak,Sunan Muria, Sunan Giri dan Sunan Ampel, dan ada pula yang dikijing.[8]Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:

1. makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yangkeramat.

2. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atauKijing, nisannya juga terbuat dari batu.

3. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengancungkup atau kubba.

4. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antaramakam  dengan  makam  atau  kelompok-kelompok  makam.  Bentuk  gapuratersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yangberbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).

5. di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makamdan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.  KESIMPULAN

Internalisasi Islam dalam arsitektur di Jawa sebenarnya sudah dapat dilihat sejak awal Islam masuk di Jawa. Mengingat bahwa salah satu saluran penyebaran Islam diJawa dilakukan melalui karya seni arsitektur, diantaranya adalah bangunan masjid danmakam. Dari deskripsi tentang bentuk arsitektur Islam Jawa di atas tercermin cara Islam mensosialisasikan diri di Jawa, yang memperlihatkan ikhtiar Islam untuk masuk di Jawasecara kultural, bukan dengan pemaksaan dan kekerasan. Berbagai bentuk arsitektur tersebut juga djadikan sebagai media penyampaian pesan Islam sehingga di dalam melihat arsitektur Islam yang cnderung disebut orang sebagai suatu sinkretisme harusdilihat esensinya yang hakiki bukan pada bentuk dan wadahnya.

 3.2. PENUTUP

Demikian makalah ini saya sampaikan, namun saya sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif daninovatif sangat saya harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,serta menambah khasanah keilmuan kita semua. Amin..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

 

÷Anasom, et. al., 2000,Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media

÷Drs. Abdul Rochym, 1983,Sejarah Arsitektur Islam, Bandung: Angkasa

÷Drs. Atang Abd. Hakim, M. A, 2000,Metodologi Studi Islam, Bandung: RemajaRosdakarya

÷http://architecturoby.blogspot.com/2009/01/arsitektur-islam.html 

÷http://dadigareng.blogspot.com/2009/03/perpaduan-seni-jawa-islam.html,

÷Seyyed Hossein Nasr, 1994,

÷Spiritualitas dan Seni Islam, Bandung: Mizan

 

 

 

 


[1] Seyyed Hossein Nasr,Spiritualitas dan Seni Islam, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 54

 

[2] Drs. Abdul Rochym,Sejarah Arsitektur Islam, (Bandung: Angkasa, 1983), hlm. 26

 

[3] Anasom, et. al.,Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 188

 

[4] ,Ibid.,hlm. 189

 

[5] Drs. Atang Abd. Hakim, M. A,Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000),hlm. 50

 

[6] http://architecturoby.blogspot.com/2009/01/arsitektur-islam.html , diakses tanggal 08 Oktober 2010 pukul 08.40

[8] Anasom, et. al.,Op. Cit., hlm. 194

 

 

0

Hak asasi manusia

HAK ASASI MANUSIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan oranglain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah tentang HAM. Maka dengan ini penulis mengambil judul “Hak Asasi Manusia”.

1.2. Identifikasi Masalah

Dalam makalah ini kami mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

  1. Pengertian HAM
  2. Perkembangan HAM
  3. HAM dalam tinjauan Islam
  4. Contoh-contoh pelanggaran HAM

1.3. Batasan Masalah

Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup HAM.

1.4. Metode Pembahasan

Dalam hal ini penulis menggunakan:

    1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih (Atherton dan Klemmack: 1982).
    2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.

BAB II

HAK ASASI MANUSIA (HAM)

2.1. Pengertian Dan Ciri Pokok Hakikat HAM

  1. 1.      Pengertian:
  2. 2.      Ciri Pokok Hakikat HAM
  • HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya (Kaelan: 2002).
  • Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.
  • John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. (Mansyur Effendi, 1994).
  • Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”

Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu:

  • HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
  • HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.
  • HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003).

2.2.Perkembangan Pemikiran HAM

  • Dibagi dalam 4 generasi, yaitu :
    • Generasi pertama berpendapat bahwa pemikiran HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II, totaliterisme dan adanya keinginan Negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan sesuatu tertib hukum yang baru.
    • Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak sosial, ekonomi, politik dan budaya. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. Pada masa generasi kedua, hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya, hak ekonomi dan hak politik.
    • Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum dalam suatu keranjang yang disebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan. Dalam pelaksanaannya hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan dimana terjadi penekanan terhadap hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama, sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban, karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar.
    • Generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominant dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak negative seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan sekelompok elit. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh Negara-negara di kawasan Asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang disebut Declaration of the basic Duties of Asia People and Government
  • Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari:
      1. Magna Charta

Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dimulai dengan lahirnya magna Charta yang antara lain memuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolute (raja yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggung jawabannya dimuka hukum(Mansyur Effendi,1994)

 

  1. The American declaration

Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Rousseau dan Montesquuieu. Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia harus dibelenggu.

  1. The French declaration

Selanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Perancis), dimana ketentuan tentang hak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak boleh ada penangkapan tanpa alasan yang sah. Dalam kaitan itu berlaku prinsip presumption of innocent, artinya orang-orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah.

  1. The four freedom

Ada empat hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang diperlukannya, hak kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya, hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan persenjataan, sehingga tidak satupun bangsa berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap Negara lain ( Mansyur Effendi,1994).

  • Perkembangan pemikiran HAM di Indonesia:
    • Pemikiran HAM periode sebelum kemerdekaan yang paling menonjol pada Indische Partij adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakukan yang sama hak kemerdekaan.
    • Sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang di Indonesia telah berlaku 3 UUD dalam 4 periode, yaitu:
      1. Periode 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949, berlaku UUD 1945
      2. Periode 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950, berlaku konstitusi Republik Indonesia Serikat
      3. Periode 17 Agustus sampai 5 Juli 1959, berlaku UUD 1950
      4. Periode 5 Juli 1959 sampai sekarang, berlaku Kembali UUD 1945

2.3. HAM Dalam Tinjauan Islam

Adanya ajaran tentang HAM dalam Islam menunjukan bahwa Islam sebagai agama telah menempatkan manusia sebagai makhluk terhormat dan mulia. Oleh karena itu, perlindungan dan penghormatan terhadap manusia merupakan tuntutan ajaran itu sendiri yang wajib dilaksanakan oleh umatnya terhadap sesama manusia tanpa terkecuali. Hak-hak yang diberikan Allah itu bersifat permanent, kekal dan abadi, tidak boleh dirubah atau dimodifikasi (Abu A’la Almaududi, 1998). Dalam Islam terdapat dua konsep tentang hak, yakni hak manusia (hak al insan) dan hak Allah. Setiap hak itu saling melandasi satu sama lain. Hak Allah melandasi manusia dan juga sebaliknya. Dalam aplikasinya, tidak ada satupun hak yang terlepas dari kedua hak tersebut, misalnya sholat.

Sementara dalam hal al insan seperti hak kepemilikan, setiap manusia berhak untuk mengelola harta yang dimilikinya.

Konsep islam mengenai kehidupan manusia didasarkan pada pendekatan teosentris (theocentries) atau yang menempatkan Allah melalui ketentuan syariatnya sebagai tolak ukur tentang baik buruk tatanan kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakjat atau warga bangsa. Dengan demikian konsep Islam tentang HAM berpijak pada ajaran tauhid. Konsep tauhid mengandung ide persamaan dan persaudaraan manusia. Konsep tauhid juga mencakup ide persamaan dan persatuan semua makhluk yang oleh Harun Nasution dan Bahtiar Effendi disebut dengan ide perikemakhlukan. Islam datang secara inheren membawa ajaran tentang HAM, ajaran islam tentang HAM dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadits yang merupakan sumber ajaran normative, juga terdapat praktek kehidupan umat islam.

Dilihat dari tingkatannya, ada 3 bentuk HAM dalam Islam, pertama, Hak Darury (hak dasar). Sesuatu dianggap hak dasar apabila hak tersebut dilanggar, bukan hanya membuat manusia sengsara, tetapi juga eksistensinya bahkan hilang harkat kemanusiaannya. Sebagai misal, bila hak hidup dilanggar maka berarti orang itu mati. Kedua, hak sekunder (hajy) yakni hak-hak yang bila tidak dipenuhi akan berakibat hilangnya hak-hak elementer misalnya, hak seseorang untuk memperoleh sandang pangan yang layak maka akan mengakibatkan hilangnya hak hidup. Ketiga hak tersier (tahsiny) yakni hak yang tingkatannya lebih rendah dari hak primer dan sekunder (Masdar F. Mas’udi, 2002)

Mengenai HAM yang berkaitan dengan hak-hak warga Negara, Al Maududi menjelaskan bahwa dalam Islam hak asasi pertama dan utama warga negara adalah:

        1. Melindungi nyawa, harta dan martabat mereka bersama-sama dengan jaminan bahwa hak ini tidak kami dicampuri, kecuali dengan alasan-alasan yang sah dan ilegal.
        2. Perlindungan atas kebebasan pribadi. Kebebasan pribadi tidak bisa dilanggar kecuali setelah melalui proses pembuktian yang meyakinkan secara hukum dan memberikan kesempatan kepada tertuduh untuk mengajukan pembelaan
        3. Kemerdekaan mengemukakan pendapat serta menganut keyakinan masing-masing
        4. Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi semua warga negara tanpa membedakan kasta atau keyakinan. Salah satu kewajiban zakat kepada umat Islam, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan pokok warga negara.

 

2.4.HAM Dalam Perundang-Undangan Nasional

Dalam perundang-undangan RI paling tidak terdapat bentuk hukum tertulis yang memuat aturan tentang HAM. Pertama, dalam konstitusi (UUD Negara). Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP MPR). Ketiga, dalam Undang-undang. Keempat, dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti peraturan pemerintah, keputusan presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya.

Kelebihan pengaturan HAM dalam konstitusi memberikan jaminan yang sangat kuat karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal dalam konstitusi seperti dalam ketatanegaraan di Indonesia mengalami proses yang sangat berat dan panjang, antara lain melalui amandemen dan referendum, sedangkan kelemahannya karena yang diatur dalam konstitusi hanya memuat aturan yang masih global seperti ketentuan tentang HAM dalam konstitusi RI yang masih bersifat global. Sementara itu bila pengaturan HAM dalam bentuk Undang-undang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya, pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan.

2.5.Pelanggaran HAM dan pengadilan HAM

Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang berlaku (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM). Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu.

Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis dan kelompok agama. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok, mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok, menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya, memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok, dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM).

Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut tujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional, penyiksaan, perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara, penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional, penghilangan orang secara paksa, dan kejahatan apartheid.

Pelanggaran terhadap HAM dapat dilakukan oleh baik aparatur negara maupun bukan aparatur negara (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM). Karena itu penindakan terhadap pelanggaran HAM tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara, tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. Penindakan terhadap pelanggaran HAM mulai dari penyelidikan, penuntutan, dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat non-diskriminatif dan berkeadilan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum.

2.6.Penaggung jawab dalam penegakan (respection), pemajuan (promotion), perlindungan (protection) dan pemenuhan (fulfill) HAM.

Tanggung jawab pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara, melainkan juga kepada individu warga negara. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM. Karena itu, pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh negara kepada rakyatnya, melainkan juga oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal.

2.7.Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM

        1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.
        2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa.
        3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.
        4. Para pedagang tradisioanal yang berdagang di pinggir jalan merupakan pelanggaran HAM ringan terhadap pengguna jalan sehingga para pengguna jalan tidak bisa menikmati arus kendaraan yang tertib dan lancar.
        5. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain.

HAM setiap individu dibatasi oleh HAM orang lain. Dalam Islam, Islam sudah lebih dulu memperhatikan HAM. Ajaran Islam tentang Islam dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran Islam itu yaitu Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber ajaran normatif, juga terdapat dalam praktik kehidupan umat Islam.

Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.

DAFTAR PUSTAKA

÷ Lasa dkk,LKS  GITA SMU PPKn.Hak Asasi Manusia. PT. PABELAN : SURAKARTA.

÷ Al-mawdudi, Mawlana Abul A’la. 2010. Hak-hak asasi manusia dalam islam, Jakarta : BUMI AKSARA.

÷ Tim Penyusun KBBI. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

÷  R Wiyono, S.H . 2006. Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Prenada Media : JAKARTA.

0

PERUBAHAN SOSIAL

PERUBAHAN SOSIAL

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

“sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat meolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS: 13: 11)

 

Manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain. Karena sifat dasar manusia adalah sebagai makhluk sosial. Manusia membutuhkan interaksi, komunikasi, dan saling ketergantungan dengan orang lain. Berdasarkan sifat dasar tersebut manusia membentuk kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan yang sama, yang memiliki kebutuhan yang sama dan dapat saling melengkapi. Oleh karena itu muncullah sebuah kelompok sosial atau masyarakat. Karena adanya interaksi, komunikasi, dan hubungan ketergantungan tersebut, maka mustahil sebuah masyarakat akan selalu bersifat statis. Perubahan-perubahan dalam kelompok sosial yang telah tersusun susunan masyarakatnya adalah sebuah keniscayaan. Perubahan sosial adalah sesuatu yang lazim terjadi. Bahkan semua fase dalam kehidupan bermasyarakat ini mengalami perubahan yang terus menerus. Baik sadar maupun tanpa disadari. Dari berabad-abad yang lalu, hingga sekarang terus terjadi proses perubahan. Dan masa sekarang hingga masa yang akan datang akan terus terjadi perubahan.

Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam hubungan interaksi antar orang, organisasi, dan komunitas. Ia dapat menyangkut struktur sosial, atau pola dan nilai serta norma dalam masyarakat. Perubahan-perubahan dlam masyarakat juga dapat mengenai pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, dan sebagainya. Studi perubahan sosial masih menjadi tema hangat dikalangan sosiolog, hal ini ditandai dengan banyaknya sosiolog yang menyoroti hal tersebut baik di desa maupun di kota. Isu tentang perubahan sosial ini sebenarnya telah menjadi tema hangat mulai abad 19, yaitu pasca revolusi industri. Akibat peralihan ini, masyarakat agraris ke industri, berbondong-bindong masyarakat melakukan migrasi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan atau menjadi buruh pabrik. Hal ini yang menghawatirkan para pemikir sosial terhadap disharmoni yang mungkin akan terjadi. Maka disaat seperti itu muncul para pemikir sosial untuk mengembalikan perubahan sosial yang disequilibrium tersebut.

Perubahan yang terjadi tidak hanya berbentuk fisik atau perubahan yang dapat secara langsung dilihat. Melainkan perubahan-perubahan juga terjadi pada nilai-nilai dan norma-norma yang telah tertanam dengan rapi dalam sistem kehidupan suatu kelompok sosial. Berubahnya nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat akan mempengaruhi semua sistem kehidupan daam masyarakat tersebut. Seperti halnya jika terjadi perubahan dalam sebuah lembaga yang merupakan suatu subsistem, akan merubah pula lembaga-lembaga yang lainnya yang sama-sama merupakan subsistem. Oleh karena itu satu perubahan akan membawa perubahan-perubahan yang lainnya, yang akhirnya akan merombak dan merubah sistem yang semula ada dan berlaku dalam kehidupan suatu kelompok sosial. perubahan sosial menjadi fenomena faktual yang tidak mungkin tidak untuk tidak disepakati oleh setiap orang, kehidupan sosial tidaklah statis, melainkan selalu berubah secara dinamis.

Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai kesepakatan yang sama dalam mengartikan perubahan sosial. Perbedaan pemahaman ini dapat terlihat jelas dalam pemikiran tokoh sosiolog awal, misalnya, Auguste Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820-1930) memahami perubahan sosial terjadi secara evolusioner. Masyarakat dianalogikakan sebagai makhluk hidup, maka perubahan dalam dirinya pasti akan terjadi. Tetapi, dia menekankan perubahan sosial tetap berada dalam titik keseimbangan ( equilibrium). Berbeda halnya dengan Comte dan Spencer, Karl Marx (1818-1883) memahami perubahan sosial atau penggerak sejarah adalah konflik. Masyarakat selalu berada dalam keadaan persaingan antara kelas penindas dan yang tertindas, maka perubahan dipahamkan terjadi secara revolusioner. Dari kedua pemahaman inilah nanti akan melahirkan beragam teori sosiologi sebagai pembacaan terhadap masyarakat.

 

 

 

 

1.2.            Rumusan Masalah

Beberapa rumusan masalah yang dapat dikaji dari uraian di atas adalah:

  1. Apa pengertian perubahan sosial?
  2. Apa faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial?
  3. Bagaimana bentuk perubahan sosial pasca reformasi ’98 dan perbedaan kondisinya ketika masa orde baru?

 

 

1.3.            Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan gambaran mengenai perubahan sosial.
  2. Untuk mengetahui perubahan sosial dewasa ini serta dampak-dampaknya dalam struktur sosial di Indonesi

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Revolusi Industri sebagai Awal Mula Terjadinya Perubahan Sosial

 

Perubahan sosial dapat dikatakan berawal dari revolusi-revolusi yang terjadi di Eropa. Baik revolusi industri di Inggris, revolusi polotik di Prancis, dan sampai pada revolusi intelektual yang menjadi batu loncatan perubahan sosial. Sejarah revolusi industri berawal pada abad pertengahan, dimana waktu itu Eropa masih menggunakan sistem feodal atu disebut latifundia (pertanian tertutup). Hubungan Eropa dengan dunia Timur (Timur Tengah dan Asia) tertutup, setelah perdagangan di laut tengah dikuasai oleh pedagang Islam pada abad ke-8 sampai abad ke-14. Setelah meletusnya perag salib tahun 1096-1291 hubungan Erop dengan dunia Timur hidup kembali. Lahirnya kota-kota dagang seperti Genoa, Florence, Venesia yang sebenarnya merupakan tempat pemberangkatan tentara salib. Dengan adanya kota-kota dagang ini muncullah kegiatan industri rumahan (home industry). Dari kegiatan ini pula terbentuk perkumpulan pengusaha sejenis yang mendapat monopoli dari perlindungan usaha dari pemerintah yang disebut Gilda. Tahun 1350 (abad ke-14) terbentuk Hansa, yaitu organisasi perserikatan kota-kota dagang Eropa Utara. Dengan terbentuknya organisasi-organisasi ini maka, semakin memperkuat eksistensi eropa dalam dunia perdagangan.

Pada abad 15 dan 16 ditemukan banyak wilayah bru dala hal ini adalah tanah jajahan yaitu di Afrika, Asia, Amerika. Berkenaan dengan ditemukannya daerah jajahan yang baru ini berkembang pula perdagangan lewat laut. Situasi ini melahirkan kelas menengah ke atas atau disebut kaum borjuis yang berpengaruh di Inggris, Prancis, dan Nederland. Dengan adanya kaum menengah ini muncullah kapitalisme yang seolah memonopoli sistem perekonomian di Eropa. Sehingga membuat “petinggi” kaum feodal atau tuan-tuan tanah merasa tersaingi, mereka tidak senang dengan adanya kaum-kaum borjuis. Pada akhirnya terjadilah perselisihan dan persaigan antara kaum borjuis dan tuan tanah. Melihat keadaan yang kacau balau ini, pada masa itu banyak lahir pemikiran-pemikirn filsafat atau sebuah pencerahan bagi masyarakat Eropa. Masa itu dikenal dengan revolusi intelektual. Dimana lahir banyak teori-teori, salah satunya teori-teori sosiologi. Orang-orang telah mulai berpikir untuk menemukan sesuatu yang dapat mengefisienkan waktu mereka dan mereka mendapat keuntungan yang besar dengan cepat. Berkenaan dengan itu pula ditemukannya berbagai mesin-mesin dan alat-alat produksi. Sehingga banyak orang yang tadinya bekerja untuk tuan tanah ataupun menjdi petni beralih menjadi buruh-buruh pabrik. Namun semakin maju perkembangan produksi mesin-mesin, dan semakin canggihnya kerja mesin-mesin tersebut. Maka para pengusaha ingin mengganti kerja buruh dengan kerja mesin. Jadi dapat dibayang,kan akan terjadi pengangguran besar-besaran. Hal inilah yang nantinya akan memicu ketegangan antara kaum borjuis dan kaum proletar.

Selain dampak yang terjadi di Eropa, dampak revolusi industri juga dirasakan oleh Indonesia. Yang mana waktu itu Indonesia adalah salah satu negara jajahan Belanda, sehaingga dampak yang terjdi adalah Indonesia menjadi sumber eksploitasi sumber daya alam  bagi negara-negara Eropa tersebut. Setelah menemukan mesin-mesin yang canggih, mereka memebutuhkan wilayah yang tepat untuk memfungsikan alat-alat mereka tersebut. Wilayah tersebut adalah tanah jajahan mereka, Indonesia salah satunya. Hal ini nantinya akan berdampak pula pada perubahan sistem yang sosial yang telah diterapkan oleh para kolonial yang menjajah negara ini. Perubahan tersebut juga akan membawa perubahan sosial di Indonesia. Bahkan bisa jadi perubahan-perubahan tersebut menjadi tonggak utama atau pemicu-pemicu perubahan yang terjadi di Indonesia selanjutnya. Jadi revolusi industri yang terjadi di Eropa juga berdampak pada negara ini.

 

2.2.  Pengertian Perubahan Sosial

Satu aspek yang mengalami perubahan akan mengakibatkan perubahan terhadap aspek-aspek yang lain, pernyataan ini mungkin sangat dekat dengan teori sistem tentang masyarakat sebagai suatu kesatuan yang saling berkaintan. Perubahan pada tingakat makro akan berimplikasi pada tataran mezo dan mikro atau sebalikanya.

Berbicara tentang perubahan, kita membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu; kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Untuk dapat menyatakan perbedaannya, ciri-ciri awal unit analisis harus diketahui dengan cermat, meski terus berubah. Maka konsep dasar perubahan sosial mencakup tiga gagasan : pertama, perbedaan. Kedua, pada waktu berbeda. Dan ketiga, diantara keadaan sistem sosial yang sama. Kecermatan dalam menganalisis perubahan sosial dan menemukan pembedaan dalam hal tersebut haruslah memperhatikan tiga hal dasar tersebut. Perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang dari sitem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan sosial ini tidak berarti selamanya merupakan sebuah kemajuan (progress), melainkan disatu sisi perubahan sosial juga bisa merupakan kemunduran (regress).

 

Ada beberapa pendapat tentang pengertian perubahan sosial dari beberapa pakar sosiologi, di anataranya:

 

 John Lewis Gillin, menyatakan bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang diterima yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, serta karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.
Samuel Koenig, menyatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi yang terjadi dalam pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern dan ekstern.
Selo Soemardjan, menyatakan bahwa perubahan sosial adalah segala bentuk perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Kingsley Davis, mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

Maclever, perubahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai perubahan-perubahan dlam hubungan sosial ( social relationship) atau sebagai perubaan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

 

Dari pengertian-pengertian yang dikemukakan oleh para pakar di atas, dapat disimpulkan pengertian perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, juga perubahan lembaga sosial dalam masyarakat yang memengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, serta perilaku individu dalam kelompoknya,  baik berupa perubahan dalam norma, nilai ataupun struktur yang ada dan telah terbentuk dalam masyarakat tersebut. Baik iru perubahan ke arah positif ataupun perubahan ke arah negatif.

 

2.3. Teori-Teori Perubahan Sosial

Terdapat beberapa tokoh yang dapat dikatagorikan sebagai sosiolog awal yang menggagas tentang perubahan sosial, diantaranya, Karl Marx, Max Weber,dan Emile Durkheim. Mereka tampil untuk merespon kodisisi sosialnya. Diamana kondisi sosial pada saat itu mengalami perubahan yang begitu besar setelah terjadinya revolusi indurtri, politik dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Marx, melukiskan perkembangan masyarakat di mulai dengan masyakat komunal primitiv hingga sosialis komunis. Perubahan adalah hasil produk konflik. Maka konflik tersebut yang menggerakkan sejarah manusia. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara, karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material dan konflik kepentingan material tersebut akan melahirkan perubahan sosial[1]. Lebih lanjut pembacaan ini di dasarkan kepada situasi sosial pada saat itu ( revolusi industri), ia membongkar eksploitasi terselubung yang dilakukan oleh kaum borjuis terhadap buruh.

Semenjak revolusi industri, peralihan dari corak produksi agraris ke industri, dipandang sebagai perubahan besar yang telah menghancurkan dan memporak-porandakan keharmonisan dan stabilitas sosial. Laju urbanisasi yang begitu tinggi membuat para pemikir sosial khawatir terhadap terjadinya kekacaun yang mungkin akan terus berlanjut.

Jika Marx mengkonsepsikan perubahan sosial adalah diakibatkan oleh kontradiksi antara kaum proletar dan borjuis, dan perkembangan masyarakat dari komunal ke sosialis komunis. Berbeda dengan Marx, Weber melihat perkembangan masyarakat ditandai dengan perubahan  pola pikir masyarakat yang rasional. Weber mengklasifikasikan tindakan masyarakat kedalam empat bagian, rasionalitas instrument, rasionalaitas nilai, trasidionalis, dan afektual. Tahapan ini berpuncak pada tindakan rasional, yaitu tindakan yang telah didasarkan atas pertimbangan alat-alat dan nilai-nilai

“Etos protestan dan spirit kapitalisme” merupakan buku Weber yang paling terkenal. Dia dipengaruhi oleh ibunya sebagai calvinis dan gagasan birokrasi dari ayahnya. Etika protestan menganjurkan manusia untuk selalu bekerja keras, hidup berhemat serta terbiasa menabung.  Jadi surga tuhan hanya diperuntukkan hanya kepada hambanya yang berani, jujur dan ulet ( punya kekayaan materi), ini sebagai tanda keselamatan ummat protestan. Semangat kapitalisme adalah ungkapan dari doktrin agama yang memungkinkan berkembangnya kehidupan sehari-hari.

Weber membedakan, kalau ajaran katolik seperti diajukan santo thomas aquino, melihat kerja sebagai suatu keharusan demi kelanjutan hidup, maka calvinisme (kristen) terutama sekte puritanisme melihat kerja sebagai pandangan hidup. Bekerja tidaklah sekedar memenuhi keperluan, tetapi tugas yang suci . bekerja adalah juga pensucian sebagai kegiatan agama

yang menjamin kepastian akan keselamatan, orang yang tidak bekerja adalah mengingkari agama dan melarikan diri dari agama[2].

Bagi weber,  perubahan sosial tidaklah semata-mata dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi[3]. Konflik juga bermuara pada arena perpolitikan, yaitu pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi. Pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidak terbatas hanya pada organisasi-organisasi politik formal, tetapi juga dapat terjadi dalam setiap kelompok, seperti organisasi keagamaan dan pendidikan. Kekuasaan dan dominasi adalah salah satu sumber perubahan atau hukum-hukum dan peraturan-peratuaran yang baru dibentuk dengan bantuan organisasi-organisai otoritas.[4] Kajian utama weber adalah perkembangan masyarakat kristen protestan dan sebagai kesimpulanya akhir, perubahan sosial adalah perubahan pemahaman terhadap doktrin-doktrin agama.

Emile durkhiem, dalam percaturan perubahan sosial yang sangat cepat dan radikal yang terjadi di ingris dan daratan eropa, merasa terpanggil  untuk ikut serta dalam usaha mengembalikan stabilitas sosial yang tengah kacau tersebut[5]. Dalam teorinya, durkehim menggunakan pendekatan sistem. Teori ini memandang masyarakat layaknya seperti organisme  yang dapat dianalisa dengan prespektif fungsionalisme struktural. Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya[6].

Pengertian dalam sistem yang sering digunakan adalah :

1        The whole Structure : Suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagiannya secara totalitas yang menggambarkan suatu sistem yang utuh.

2        Consists of Part : Terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsi tersendiri.

3        Interelation : Saling berhubungan antara sub-sistem sehingga merupakan mikanisme kerja.

4        Integratif : Keterpaduan hubungan antara sub sistem atau organisme yang ada secara  baik dan lengket atau kokoh.

5        Higly Interdependent : Saling bergantung antara hubungan berbagai sub sistem atau organisme sosial.

6        As a Whole Producing Certain Unique Product : Masing-masing subsistem memiliki konstribusi tugas tersendiri sehingga membentuk jalinan fungsi tersendiri.[7]

Sekalipun pendekatan ini tidak mengisayaratka perubahan dari dalam tetapi masih mengisyaratkan adanya keadaan sakit atau abnormal. Sehingga dalam pendekat sistem juga di kenal adanya systemic approach yang meliputi : pertama ; Balanced and Equilibrium, yaitu suatu keadaan dimana diutamakan terjadinya keseimbangan kekuatan sehingga tidak terjadi perubahan sosial yang mengarah kepada penghancuran sistem yang ada. Kedua ; External Factor, yaitu faktor-faktor diluar sistem yang diproyeksikan selalu menjadi faktor penyebab utama proses perubahan sosial. Ketiga ; Concencus, yaitu proses pencapain kesepakatan sosial dari orang-orang atau lembaga yang terlibat dalam konflik sosial[8].

Durkeim meliahat perubahan sosial sebagai proses menuju kematangan, sebagaimana yang telah digambarkan oleh marx dan weber. Dia mendasarkan teorinya terhadap dikotomi antara solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Masyarakat bergerak maju (evolusi unlinear) menuju ketahap yang matang (solidaritas organik). Perubahans kearah tersebut ditandai dengan pembagian kerja yang jelas (division of labour).

Menurut durkheim, perubahan sosial tersebut dapat terjadi karena diawali  dan diberi inspirasi dari semangat moral, nilai-nilai, keyakianan yang sama dalam masyarakat. Nilai-nilai moral ini akan menjadi sebuah gambaran kolektif masyarakat tertentu. Dengan kata lain, kesadaran kolektif yang terbentuk dari konsensus akan memunculkan gambaran kolektif. Sementara itu, gambaran kolektif ini akan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat secara keseluruhan, baik yang tercermin dalam bentuk hukum dan peraturan-peraturan. Kondisi ini dapat terjadi dalam masyarakat, baik tradisional (praindustri), baik modern.[9]

2.4. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial

  1. 1.      Perubahan lambat

Perubahan sosial secara lambat sering disebut evolusi. Ciri perubahan tersebut antara lain, perubahan itu seolah-olah tidak terjadi, berlangsung secara lambat dan umumnya tidak menyebabkan disintegrasi kehidupan. Perubahan secara lambat memerlukan waktu yang lama. Biasanya perubahan ini merupakan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Masyarakat hanya menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru. Rentetan perubahan-perbahan tersebut tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi, yang pada umumnya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:

  1. a.    Unilinear theories of evolution

Teori ini pada intinya berpendapat bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai denagn tahap-tahap tertentu, bermula dari bentuk yang sederhana, kemudian bentuk yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna. Pelopor-pelopor teori ini antara lain August Comte, Herbert Spencer. Suatu variasi dari teori tersebut adalah cyclical theories, yang dipelopori oleh Vilfredo Pareto. Teori ini berpendapat bahwa masyarakat mempunyai tahap-tahap perkembangan yang merupakan lingkaran, dimana suatu tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang.

  1. b.    Universal theory of evolution

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah perlu melali tahap-tahap tertentu yang tetap. Teori ini mengemukakan bahwa kebudayaan masyarakat telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Prinsip-prinsip ini diuraikan oleh Herbert Spencer yang antara lain mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok yang homogen ke kelompok yang heterogen, baik sifat maupun susunannya.

  1. c.    Multilinead theories of evolution

Teori ini lebih menekankan pada penelitian-penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya, mengadakan penelitian tentang pengaruhperubahan sistem pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian, terhadap sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang bersngkutan dan seterusnya.

 

 

 

  1. 2.      Perubahan cepat

Perubahan sosial yang bersifat cepat sering disebut dengan istilah revolusi, yaitu terjadi secara cepat, menyangkut hal-hal yang mendasar, dan sering menimbulkan disintegrasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Di dalam revolusi perubahan yang terjadi dapat direncanakn atau tanpa direncanakan dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau dengan kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan relatif karena revolusipun  dapat memakan waktu yang lama. Sebagai contoh, revolusi industri di Inggris merupakan perubahan dari produksi tanpa mesin menuju ke produksi dengan menggunakan mesin. Perubhan tersebut dianggap cepat karenadapat mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan, dan hubungan anatara buruh dan majikan, dalam waktu yang relatif cepat. Suatu revolusi dapat juga terjadi dengan didahului pemberontakan (revolt rebellion) yang kemudian menjelma menjadi revolusi, contohnya revolusi kemerdekaan di Indonesia dan revolusi Prancis.

Secara sosiologis, agar suatu revolusi dapat terjadi, harus dipenuhi syarat-syrat tertentu, antara lain sebagai berikut.

  1. Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Di dalam masyarakat, harus ada perasaan tidak puas terhadap suatu keadaan dan suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.
  2. Adanay seorang pemimpin atau orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.
  3. Adanay pemimpij dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat untuk kemudia merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas tadi menjadi program dan arah gerakan.
  4. Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya tujuan tersebut bersifat kongkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu diperlukan juga, suatu tujuan yang abstrak, misalnya perumusan sesuatu ideologi tertentu.
  5. Harus ada momentum, yaitu saat di mana segala keadaan dan faktor sudah tepat dan baik untuk memulai suatu gerakan. Apabila momentum keliru, revolusi dapat gagal.

 

  1. Perubahan yang kecil pengaruhnya

Perubahan yang tidak meyangkut berbagai aspek kehidupan, perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung  atau berarti pada mayarakat. Contohnya perubahan mode pakaian, tak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga-lemabaga kemasyarakatan.

  1. 4.      Perubahan yang besar pengaruhya

Perubahan sosial yang dapat membawa dampak pada berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Perubahan yang berpengaruh pada masyarakat dan lemabaga-lembaganya, seperti dalam sistem kerja, sistem hak milik tanah, hubungan masyarakat dan stratifikasi masyarakat. Contohnya adalah urbanisasi di kota-kota menimbulkan berbagai perubahan, seperti lahan menjadi sempit. Timbul bermacam-macam lembaga hubungan kerja dan lembaga gadai tanah. Selain itu muncul juga kesenjangan yang dapat memicu konflik yang akhirya dapat sampai pada tahapan disintegrasi sosial.

 

  1. 5.      Perubahan yang dikehendaki (intended change) atau yang direncanakan (planned change)

Yaitu proses perubahan yang memang dikehendaki atau direncanakan oleh pihak-pihak yang menginginkan perubahan. Pihak-pihak yang meninginkan perubahan tersebut disebut agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. Dalam melaksanakannya, agent of change langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin menyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-cara memengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau sering juga dinamakan perencanaan sosial (social planning).

Suatu perubahan yang dikehendaki dapat timbul sebagai reaksi (yang direncanakan) terhadap perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi sebelumnya, baik berupa perubhan yang dikehendaki atau perubahan yang tidak dikehendaki. Terjadinya perubahan-perubhan sosial yang dikehendaki, perubahan-perubahan yang kemudian merupakan perkembangan selanjutnya meneruskan proses. Bila sebelumnyaterjadi perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki, peruabahan yang dikehendaki dapat ditafsirkan sebagai pengakuan terhadap perubahan-perubahan sebelumnya agar kemudian diterima luan oleh masyarakat. Perubahan yang dikehendaki merupakan suatu teknik sosial yang oleh Thomas dan Znaniecki ditafsirkan sebagai suatu proses yang berupa perintah dan larangan. Artinya menetralisirkan suatu keadaan krisis dengan sustu akomodasi untuk melegakan hilangnya keadaan yang tidak dikehendaki tau berkemabangnya suatu keadaan yang dikehendaki. Legalisasi tersebut dilaksanakan dengan tindakan-tindakan fisik yang arbitratif.

 

  1. 6.      Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan

Perubahan yang tidak dikehendaki merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di luar jangkauan pengawasan  masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak dikehendaki dan tidak diharapkan masyarakat. Contohnya, Sejak tahun 1991, sistem ekonomi kapitalisme mulai masuk ke Indonesia, sehingga para pemilik modal mulai menguasai perekonomian di Indonesia. Hal ini menyebabkan jurang antara orang kaya dan orang miskin semakin dalam.

 

  1. 7.      Perubahan struktural

Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contohnya adalah penggunaan alat-alat pertanian yang canggih.

 

  1. 8.      Perubahan proses

perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar. Perubahan tersebut merupakan penyempurnaan dari perubahan sebelumnya. Contohnya, perubahan kurikulum dalam bidang pendidikan yang sifatnya menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam perangkat atau dalam pelaksanaan kurikulum sebelumnya.

 

2.5. Faktor Faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial

                        Faktor yang menyebabkan perubahan sosial dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor –faktor internal antara lain.

  1. Bertambah atau berkurangnya penduduk

Pertambahan penduduk maupun berkurangnya penduduk di suatu daerah akan memengaruhi struktur masyarakat yang ada. Misalnya saja pertambahan peduduk yanng terjadi di pulau Jawa yang disebabkan karena urbanisasi akan memengaruhi struktur masyarakat yang ada, misal muncullah istilah hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan sebagainya yang sebelumnya tidak dikenal. Urbanisasi atau berpindahnya masyarakat dari desa ke kota juga menyebabkan kekosongan di desa. Misalnya dalam bedang pembagian kerja dan startifikasi sosial. Sehingga bertambahnya peduduk di kota-kota yang terjadi karena urbanisasi maupun berkurangnya penduduk di desa yang disebabkan pula oleh urbanisasi, secara teknis juga akan mengubah struktur sosial dan lembaga-lembaga masyarakat yang semula ada dan telah berlaku di daerah masing-masing.

  1. Penemuan-penemuan baru

Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut inovasi. Proses tersebut salah satunya adalah penemuan baru. Penemuan-penemuan baru yang menyebabkan perubahan sosial dapat dibedakan menjadi discovery  dan invention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat maupun sebuah gagasan baru yang diciptakan oleh individu. Sedangkan invention adalah kembangan dari discovery. Discovery baru menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan tersebut. Contohnya penemuan motor gas yang pertama oleh S. Msrcus. Motor gas ini adalah sebuah discovery, karena pada zamannya belum ada yang menciptakan  motor gas, yang artinya pada masa itu motor gas adalah sesuatu yang benar-benar baru. 30 tahun kemudian, sesudah suatu rangkaian sumbangan dari pencipta lain, terjadilah proses invention yakni dengan terciptanya sebuah mobil yang dapat dipakai sebagai alat pengangkutan oleh manusia dengan cukup peraktis dan aman. Dari sini dapat dilihat bahwa dengan ditemukannya sebuah mobil saja telah mengubah cara hidup manusia, menjadi lebih praktis dan lebih maju.

Namun meskipun penemuan telah mencapai tahap invention, proses inovasi belum selesai. Produksi mobil masih belum dikenal oleh seluruh masyarakat. Masih memerlukan propaganda atau publikasi kepada masyarakat. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu, satu persoalan lagi apakah masyarakat sudah siap menerima penemuan baru ini? Karena ini juga berarti diperlukan perubahan-perubahan dalam hal lain misalnya, perlunya dibuat jalan-jalan raya. Penemuan baru tidak hanya akan terhenti dalam satu hal. Terkadang penemuan baru akan memyebabkan penemuan-penemuan yang lainnya. Atau dapat dikatakan penemuan ini meluas ke bidang-bidang lainnya. Contohnya, penemuan radio menyebabkan perubhan-perubhan dalam lembaga kemasyarakatan seperti pendidikan, agama, pemerintahan, dan seterusnya. Kemungkinan lainnya adalah perubahan baru akan menjalar dari satu lembaga ke lembaga kemasyarakatan ke lembaga kemasyarakatan yang lainnya. Contohnya penemuan pesawat, menyebabkan perubahan terhadap metode peperangan, yang kemudian memeperdalam perbedaan-perbedaan antara negara-negara besar (super power) dengan negara-negara kecil.

 

  1. Pertentangan (konflik) masyarakat

Perubahan sosial terjadi juga karena adanya konflik dalam masyarakat. Bahkan dapat dikatakan perubahan sosial tidakn akan ada tanpa adanya konflik. Begitu besar pengaruh konflik dalam membentuk perubahan sosial. Pertentangan-pertentangan mungkin saja terjadi antara individu-individu, antara individu dan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Pertentangan antara kelompon mungkin terjadi antara generasi tua dan generasi muda. Contohnya pertentangan antara golongan tuan dan golongan muda sebelum terjadinya proklamasi. Pertentangan atau perbedaan pendapat ini pada akhirnya dapat mendorong terjadinya kemerdekaan, hingga saat ini kita merasakannya. Konflik ini merubahn keadaan sosial Indonesia yang semula berstatus negara jajahan, menjadi negara yang sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap moderen. Generasi muda yang belum terbentuk kepribadiannya lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang dalam beberapa hal mempunyai taraf yang lebih tinggi.

 

  1. Terjadinya pemberontakan atau revolusi

Revolusi identik dengan pemberontakan. Dalam hal ini revolusi memiliki peran yang besar dalam perubahan sosial. Seperti yang sudah dibahas pada awal, revolusi industri menyebabkan perubahan struktur sosial masyarakat dari struktur tuan tanah-buruh tani menjadi pemilik modal-buruh pabrik. Karena telah ditemukannya berbagai macam jenis mesin yang baru, sehingga menyebabkan struktur perekonimian dari petani menjadi buruh pabrik. Revolusi industri inipun melalui proses yang terbilang lama, meskipun dalam istilahnya digunakan kata revolusi, namun kecepatan suatu perubahan itu relatif. Contoh lain revolusi yang meletus pada oktober 1917 di Rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahn besar  Negara Rusia yang mula-mula berbentuk kerajaan absolut berubah menjadi negara diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis.

 

Adapun faktor eksternal yang menyebabkan perubahan sosial antara lain.

  1. Sebab- sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik

Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung merapi, dan sebagainya akan menyebabkan masyarakat yang mendiami suatu wilayah yang terkena bencana alam tersebut akan mencari wilayah baru untuk dihuni kembali. Jelas bagi masyarakat yang mnempati daerah baru ini juga akan meneyebabkan perubahan dalam lembaga dan struktur sosial mereka. Misalnya saja bagi masyarakat yang pada wilayah asal mereka sebelum terkena bencana alam, mata pencaharian mereka adalah berburu. Seteah menemukan dan pindah ke wilayah mereka yang baru, akan terbentuk lembaga sosial yang lainnya dalam hal mata pencaharian, seperti pertanian. Sebab yang bersumber pada alam fisik juga terkadang  disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri, misalnya saja mereka menebangi hutan secara berlebihan kan menyebabkan banjir dan tanah longsor.

 

  1. Peperangan

Peperangan dengan negara lain juga menyebabkan perubahan sosial. Karena biasanya negara yang menang dalam peperangan akan memaksakan kebudayaan mereka pada negara yang kalah. Contohnya adalah negara-negara pada Perang Dunia II banyak sekali negara yang mengalami perubahn dalam lembaga kemasyarakatnnya, negara-negara yang kalah pada Perang Dunia II seperti Jepang dan Jerman mengalami perubahan-perubahan besar dalam masyarakat.

 

  1. Pengaruh kebudayaan lain

Pengaruh kebudayaan di sini maksudnya adalah bila kedua kebudayaan saling berinteraksi dn saling melancarkan pengaruh-pegaruh mereka. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara kedua kebudayaan akan menimbulkan penegruh timbal balik. Artinya masing-masing masyarakat akan saling memengaruhi. Namun apabila hubungan ersebut terjadi melalui alat komunikasi masaa, yaitu dari masyarakat yang menggunkan alat komunikasi saja, sedangkan di pihak lain tidak menggunakan alat komunikasi, maka pihak yang tidak menggunkan alat komunikasi ini tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan pengaruh balik. Apabila pengaruh dari masyarakat yang menggunakan alat komunikasi ini diterima dengan baik tanpa adanya paksaan, hasilnya dinamakan demonstration effect, dalam bahasa antropologi disebut dengan akulturasi.

Dalam pertemuan dua budaya tidak selalu terjadi proses saling mempengaruhi. Kadangkala pertemuan dua kebudayaan tersebut saling menolak, hal ini disebut dengan cultural animosity. Contohnya adalah Surakarta dengan Yogyakarta. Pertemuan kedua kebudayaan ini mula-mula diawali dengan pertentangan fisik yang kemudian dilanjutkan dengan pertentangan-pertentangan dalam segi-segi kehidupan yang lain. Apabila salah satu dari dua kebudyaan yang bertemu mempunyai teknologi yang lebih tinggi, maka yang terjadi adalah imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur-unsur kebudayaan yang lain. Mula-mula unsur itu ditambahkan pada kebudayaan yang asli. Namun lambat laun, unsur-unsur kebudayaan yang asli diubah kemudian diganti dengan unsur kebudayaan asing tersebut.

 

2.6. Faktor-faktor yang Mendorong dan Menghambat Perubahan Sosial

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong dan menghambat terjadinya perubahan sosial. Faktor-faktor tersebut bisa saja terjadi dalam diri suatu masyarakat, dan dapat pula terjadi karena adanya faktor-faktor dari luar  masyarakat. Adapun faktor-faktor yang mendukung terjadinya perubahan sosial adalah sebagai berikut.

  1. Penduduk yang heterogen.
  2. Sistem pendidikan formal yang maju.
  3. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.
  4. Toleransi.
  5. Kontak dengan kebudayaan lain.
  6. Sistem terbuka lapisan masyrakat (open stratification).
  7. Orientasi ke masa depan.
  8. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
  9. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.

Adapun faktor-faktor yang menghalangi perubahan sosial adalah:

  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
  2. Perkembangan ilmu penegtahuan yang terlambat.
  3. Sikap masyarakat yang sangat tradisional.
  4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interest.
  5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan.
  6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup.
  7. Hambatan-hambatan yang berupa ideologis.
  8. Adat atau kebiasaan.

 

2.7. Reformasi 1998: Contoh Perubahan Sosial yang Terjadi di Indonesia

 

Jika berbicara mengenai perubahan sosial, Indonesia juga tak lepas dari proses tersebut. Jika dirunut dari zaman penjajahan dahulu, Indonesia telah banyak mengalami perubahan. Bahkan dalam berbagai aspek. Sosial budaya, ekonomi, bahkan perpolitikan. Namum perubahan sosial yang paling mencolok dan dapat dikatakan perubahan yang paling besar pengaruhnya sepanjang sejarah Indonesia adalah reformasi 1998. Transisi dari masa orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto menuju masa reformasi, yaitu ketika lengsernya Soeharto dari jabatannya. Banyak kebijakan-kebijakan yang diterapkan pada masa orde baru dirombak dan diubah oleh B.J Habibie sebagai presiden Indonesia yang menggantikan Soeharto, setelah lengsernya Soeharto. Serangkaian peristiwa sebelum turunnya Soeharto dari jabatannya termasuk salah satu proses perubahan sosial. Dalam teori perubahan sosial, terdapat teori revolusi, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Revolusi adalah proses perubahan secara cepat, namun cepat dalam hal ini adalah relatif. Bisa saja sebuah revolusi tetapi proses yang terjadi justeru terkesan lama. Serangkaian peristiwa pemberontakan, demonstrasi, dan sekian aksi unjuk rasa hingga akhirnya rakyat Indonesia yang kontra terhadap sistem kepemimpinan Soeharto, berhasil menggulingkan presiden ke dua republik Indonesia itu. Sehingga pada waktu itu mulai dari orde baru, pemberontakan-pemberontakan, penyerahan kepemimpinan pada B. J. Habibie, hingga masa kepemimpinan Indonesia beralih ke tangan Habibie terjadi dalam kurun waktu yang cukup singkat, sehingga hal ini dapat dikategorikan sebagai sebuah proses revolusi. Meskipun melalui berbagai rangkaian peristiwa, agar lebih jelasnya kami akan memaparkan sedikit rangkaian peristiwa yang penting, yang mengawali era pasca orde baru atau dikenal dengan era reformasi Indonesia.

Reformasi Indonesia 1998

Krisis finansial yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidak puasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organisasi mahasiswa berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan kepemimpinan kepada wakil presiden B. J. Habibie.

5 Maret: Dua puluh mahasiswa Universitas Indonesia mendatangi Gedung DPR/MPR untuk menyatakan penolakan terhadap pidato pertanggungjawaban presiden yang disampaikan pada Sidang Umum MPR dan menyerahkan agenda reformasi nasional. Mereka diterima Fraksi ABRI

10 Maret: Soeharto terpilih kembali untuk masa jabatan lima tahun yang ketujuh kali dengan menggandeng B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden.

1 Mei: Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dahlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003.

2 Mei: Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998). Mahasiswa di Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut kenaikan harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi disikapi dengan represif oleh aparat. Di beberapa kampus terjadi bentrokan.

4 Mei: Harga BBM melonjak tajam hingga 71%, disusul tiga hari kerusuhan di Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal.

7 Mei: Peristiwa Cimanggis, bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang mengakibatkan sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Dua di antaranya terkena tembakan di leher dan lengan kanan, sedangkan sisanya cedera akibat pentungan rotan dan mengalami iritasi mata akibat gas air mata.

8           Mei: Peristiwa Gejayan, 1 mahasiswa Yogyakarta tewas terbunuh.

 

12    Mei: Tragedi Trisakti, 4 mahasiswa Trisakti terbunuh.

21 Mei: Pukul 01.30 WIB, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais dan cendekiawan Nurcholish Madjid (almarhum) pagi dini hari menyatakan, “Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat datang pemerintahan baru”. Pukul 9.00 WIB, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 9.00 WIB. Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia.

22 Mei: Habibie mengumumkan susunan kabinet reformasi.

       Begitulah serangkain peristiwa penting yang menyertai proses reformasi di Indonesia. Jika dilihat dari beberapa peristiwa pemberontakan dan demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa, sebenarnya inilah yang memicu perubahan dalam hal ini yang memengaruhi pemerintah terutama presiden Soeharto untuk mengambil beberapa keputusan dan kebijakan. Karena tindakan pemberontakan para mahasiswa ini Soeharto merasa ditekan dan merasa harus segera mengambil keputusan besar, yaitu mengundurkan diri. Karena rakyat merasa tidak puas dengan kepemerintahan Soeharto. Sehingga di sinilah terjadi perubahan besar pada negara ini. Yaitu pergantian seorang peresiden, dan pergantian ini membawa perubahan-perubahan lain di negara ini, bahkan di semua aspek. Seperti yang telah dijelskan di atas, kebijakan-kebijakan yang dulu diterapakan pada masa pemerinthan Soeharto, dirombak oleh Habibie dan menerapkan kebijakan-kebijakan baru dalam pemerintahannya. Hal ini tentu berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia, karena transisi dari masa orde baru menuju era reformasi pada pemeintahan Habibie terhitung relatif cepat.

Beberapa gambaran kondisi Indonesia dengan kebijakan yang diterapkan pada masa orde baru oleh Soeharto selama masa kepemimpinannya. Pada awal zaman orde baru program pemerintah semata-mata diarahkan kepada usaha penyelamatan ekonomi nasional, terutama berupa usaha memberantas inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pemerintah pada waktu itu melakukan program stabilisasi dan rehabilitasi. Stabilisasi berarti pengendalian inflasi, agar harga-harga tidak melonjak terus secara cepat. Sedangkan rehabilitasi adalah rehabilitasi secara fisik prasarana-prasarana, ekspor, alat-alat produksi yang banyak megalami kerusakan. Soeharto pada waktu itu juga menerapkan  program repelita (rencana pembangunan lima tahun). Kondisi perekonomian terkesan baik dan terlihat mensejahterakan rakyat. Namun ternyata di balik kemakmuran yang terlihat, ternyata Indonesia memiliki utang luar negeri yang tidak sedikit. Soeharto membangun dan memperbaiki perekonomian negara ini dari utang-utang yang dipinjam pada negara-negara maju. Bahkan pada waktu itu, awal-awal orde baru  utang Indonesia kepada luar negeri meliputi sekitar 2,3 miliyar dolar, ditambah dengan tunggakan-tunggakan tahun sebelumnya. Inilah yang sampai sekarang di sebut Soeharto meninggalkan warisan hutang yang banyak pada generasi sesudahnya. Selain masalah inflasi tadi, kebebasan pers di Indonesia pada waktu itu juga mengalami pengekangan dari pemerintah. Maka hal-hal inilah yang semakin hari semakin menekan rakyat Indonesia karena merasa Soeharto terlalu otoriter dalam pemerintahannya. Akhirnya meledaklah semua kekecewaan rakyat terhadap pemerintah, dan menyebab berbagai aksi-aksi pemberontakan. Sedangkan ketika tampuk pemerintahan telah di tangan Habibie, beberapa kebijakan yang diterpkan olehnya seperti liberalisasi parpol, pemberian kebebasan pers, kebebasan berpendapat, dan pencabutan UU subversi. Perubahan perekonomian dimulai dari kerja sama dengan Dana Moneter Indonesia. Sehingga jelas dengan perubahan-perubahan yang diambil oleh Habibie itu kemudian melahirkan perubahan-perubahan lain di berbagai bidang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.            Simpulan

Dari uraian bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:

Perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur serta nilai-nilai dalam masyarakat. Perubahan sosial dapat terjadi secara cepat maupun lambat. Perubahan sosial memengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat. Perubahan sosial dapat terjadi karena bebarap faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal. Salah satu contoh perubahn sosial yang terjadi di Indonesia adalah masa reformasi ’98.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2010. Reformasi Indonesia 1998, (Online), (http//wapedia.mobi/id/orde_reformasi.com, diakses 3 Desember 2010)

Astrid S. Susanto, Phil. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bandung : Binacipta

M. Henslin, James. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Yogyakarta  : Erlangga

Notosusanto, Marwati. 1984. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Ritzer, George – J. Goodman, Douglas. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana

Ritzer, George, 2010. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. PT. RajaGrafindo Persada

 

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial, Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya.

 

Soekanto, Soejono. 2009. Sosiologi Sebagai Suatu Pengantar,  Jakarta : Rajawali Press

Suwito. 2004. Tranformsi Sosial, Kajian Epistemologi Ali-Syariati Tentang Pemikiran Islam Modern. Yogyakarta : Unggun Religi

 

Suyanto, Bagong- Dwi Narwoko J. 2010. Sosiologi, Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta : Kencana

Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial, dialihbahsaskan oleh Alimandan, Jakarta : Prenada,

 

 


[1] Agus Salim, Perubahan Sosial, Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia,2002, (Yogyakarta : PT, Tiara Wacana Yogya). Hal. 38.

[2] Ibid., hal. 42.

[3] Kritik terhadap marx bahwa sejarah manusia di gerakkan oleh adanya konflik material. Lebih lanjutnya dia meletakkan ekonomi sebagai pondasi yang paling fundamental dalam perubahan sosial. Konflik yang mendarsari perubahan sosial ini terjadi didalam ekonomi ( infrastruktur) dan akan mengakibatkan perubahan terhadap superstruktur ( agama, politik, pendidikan dll).

[4] Suwito NS, Tranformsi Sosial, Kajian Epistemologi Ali-Syariati Tentang Pemikiran Islam Modern, (Yogyakarta : Unggun Religi, 2004), hal. 129.

[5] Kajian yang ditawarkan oleh durkeim merupakan kajian sosiolog untuk mengatasi perubahan tersebut yang terjadi secara radikal. Perubahan sosial ini adalah perubahan jawaban yang direkayasa dan perubahan sosial yang stabil dengan tetap berafiliasi kepada status quo.

[6] George ritzer, sosiologi ilmu pengetahuan berparadigma ganda, ( pt. rajagrafindo persada, 2010), hal. 21.

[7] Agus salim, op. cit., 53.

[8] Ibid., hal. 53-54.

[9] Suwito NS, Op. Cit. hal. 120-121.

0

sosiologi pesantren

PENDIDIKAN PESANTREN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Islam sering sekali bermakna konotasi tidak menarik dan kurang bisa menjawab tantangan jaman. Sebenarnya kondisi tradisional sangat perlu dipertahankan keberadaannya, akan tetapi memiliki kewajiban untuk mengikuti situasi dan kondisi yang semakin hari semakin bertambah maju. Pesantren telah menjadi trend sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dulu, bertumpu kepada semangat juang dan keimanan kepada Yang Memberi Kemerdekaan bagi seluruh manusia, sekaligus menjadi tameng dari pengaruh tradisi barat pada masa itu. Masa sekarang pesantren masih banyak ditemukan di Indonesia, akan tetapi perannya sudah jauh berkurang seperti dulu, dikarenakan jaman dan waktu telah berubah.

Apa yang menjadi penyebab pesantren dikatakan kolot, konservatif dan terlalu sempit memandang permasalahan umat pada masa kini. Yang menjadi inti dari kritiknya adalah masalah sistem pendidikan yang dipakai oleh pesantren. Menurut Nurcholish Madjid secara umum menyoroti 3 aspek dalam sistem pendidikan pesantren ini, yaitu; pertama, segi metodologi pengajaran pesantren yang masih sentralistik pada satu kekuasaan tertinggi kiai. Kedua, segi tujuan dari pendidikan terlalu melulu mengurus akhirat sedangkan dunia selalu terabaikan, dan ketiga, adalah segi kurikulum, dimana materi pengajaran pesantren hanya berkutat di bidang agama dan moral. Modernisasi yang diusung lebih bertujuan agar pesantren yang notabene sangat kuat keagamaannya sangat cocok untuk menerapkan sistem pendidikan modern, dimana manusia liberal yang lebih mengedepankan akal akan terimbangi dengan kuatnya segi keagaman yang didapat di pesantren. Nurcholish Madjid melihat potensi pesantren Indonesia bisa menjadi solusi bagi sistem pendidikan nasional dengan syarat harus membenahi sedikitnya 3 aspek di atas. Yaitu dengan memaknai kembali pemahaman pembaharuan pesantren, memiliki jiwa kepemimpinan yang legitimate dan mempunyai skill dalam proses perubahan dan visi pendidikan pesantren harus dipertegas dan dikembangkan.

 

 

 

 

 

 

 

1.2. Identifikasi Masalah

Dalam makalah ini kami mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

  1. Definisi Pesantren
  2. Sistem Pendidikan Pesantren
  3. Proses Pembalajaran di Pesantren
  4. Teori pendidikan yang ada dalam pesantren

 

 

 

1.3. Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan gambaran mengenai pendidikan yang ada di pesantren.
  2. Untuk mengetahui sistem pendidikan yang ada di pesantren.

 

 

1.4. Metode Pembahasan

Dalam hal ini menggunakan:

  1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih (Atherton dan Klemmack: 1982).
  2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Definisi Pesantren

 

Kata pesantren berasal dari akar kata santri dengan awalan ”pe” dan akhiran ”an” berarti tempat tinggal para santri. Profesor John berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Sedangkan CC. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India adalah orang-orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri sendiri memiliki akar makna yang sama dengan kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau pengetahuan. Tetapi, mungkin juga kata santri dirunut dari kata cantrik, yaitu para pembantu begawan atau resi yang diberi upah berupa ilmu. Teori terakhir ini pun juga perlu dipertimbangkan karena di pesantren tradisional yang kecil, di pedesaan-pedesaan, santri tak jarang juga bertugas menjadi pembantu kyai. Konsekuensinya, kyai memberi makan kepada santri selama ia ada di pesantren dan juga mengajarkan ilmu agama. Selain istilah tersebut, dikenal pula istilah pondok yang berasal dari kata Arab fundûq dan berarti penginapan. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua istilah tersebut biasa digunakan secara bersama-sama, yakni pondok pesantren.

 

Potret pesantren tidak terelepas dari definisinya, yaitu sebagai sebuah tempat pendidikan santri. Para ahli berbeda-beda dalam menyebutkan unsur-unsur yang harus ada di dalam pesantren. Ada yang menyebutkan tiga unsur, yaitu santri, asrama dan kyai. Tetapi ada pula yang menyebutkan lima unsur, yaitu ketiga unsur di depan dengan ditambah unsur mesjid dan pengajaran kitab kuning.

 

Terlepas dari perbedaan bilangan yang menjadi unsur pesantren, semua sepakat bahwa kyai menempati posisi sentral di dalam sebuah pesantren. Kepada kyai itulah santri belajar ilmu pengetahuan agama. Agar proses belajar itu lebih lancar, maka di sekitar rumah kyai dibangun asrama untuk para santri. Di samping itu, pada umumnya juga ada fasilitas ibadah berupa mesjid.

Selain sebagai pengajar, kyai juga menjadi pemimpin di pesantren. Dalam kepemimpinannya, kyai memegang kekuasaan yang hampir mutlak. Visi dan misi, kurikulum, managemen dan berbagai urusan lain di pesantren, semuanya tergantung kepada

dawuh (titah) kyai. Memang kadang-kadang santri senior diberi tugas menjalankan teknis pendidikan juga di pesantren itu, atau menggantikan kyai dalam mengajar apabila ada uzur (badal).

 

 

Sedangkan dalam sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa pesantren memiliki tiga unsur utama, yaitu (1) kyai sebagai pendidik sekaligus pemilik pondok dan para santri; (2) kurikulum pondok pesantren; dan (3) sarana peribadatan dan pendidikan, seperti masjid, rumah kyai, dan pondok, serta sebagian madrasah dan bengkel-bengkel kerja keterampilan. Kegiatannya terangkum dalam ”Tri Dharma Pondok Pesantren” yaitu: (1) keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.; (2) pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan (3) pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara.

2.2. Sistem Pendidikan Pesantren

Pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia. Pesantren adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Karena, sebelum datangnya Islam ke Indonesia pun lembaga serupa pesantren ini sudah ada di Indonesia dan Islam tinggal meneruskan, melestarikan dan mengislamkannya. Jadi pesantren merupakan hasil penyerapan akulturasi kebudayaan Hindu-Budha dan kebudayaan Islam kemudian menjelma menjadi suatu lembaga yang kita kenal sebagai pesantren sekarang ini.

Akar-akar historis keberadaan pesantren di Indonesia dapat di lacak jauh ke belakang, yaitu pada masa-masa awal datangnya Islam di bumi Nusantara ini dan tidak diragukan lagi pesantren intens terlibat dalam proses islamisasi tersebut. Sementara proses islamisasi itu, pesantren dengan canggihnya telah melakukan akomodasi dan transformasi sosio-kultural terhadap pola kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, dalam prespektif historis, lahirnya pesantren bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan akan pentingnya pendidikan, tetapi juga untuk penyiaran agama Islam. Menurut M. Dawam Raharjo, hal itu menjadi identitas pesantren pada awal pertumbuhannya, yaitu sebagai pusat penyebaran agama Islam, disamping sebagai sebuah lembaga pendidikan

Pesantren merupakan sistem pendidikan tertua khas Indonesia. Ia merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi para pencita ilmu dan peneliti yang berupaya mengurai anatominya dari berbagai demensi. Dari kawahnya, sebagai obyek studi telah lahir doktor-doktor dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari antropologi, sosiologi, pendidikan, politik, agama dan lain sebagainya. Sehingga kita melihat pesantren sebagai sistem pendidikan Islam di negeri ini yang kontribusinya tidak kecil bagi pembangunan manusia seutuhnya.

Sistem pendidikan di pesantren mengadopsi nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Keadaan ini menurut Abdurrahman Wahid disebut dengan istilah subkultur. Ada tiga elemen yang mampu membentuk pesantren sebagai subkultur :

 

    1) pola kepemimpinan pesantern yang mandiri, tidak terkooptasi oleh negara.

    2) kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad.

    3) sistem nilai yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas.

Tiga elemen ini menjadi ciri yang menonjol dalam perkembangan pendidikan di pesantren. Pesantren baru mengkin bermunculan dengan tidak menghilangkan tiga elemen itu, kendati juga membawa elemen-elemen lainnya yang merupakan satu kesatuan dalam sistem pendidikannya.

Secara esensial, sistem pendidikan pesantern yang dianggap khas ternyata  bukan sesuatu yang baru jika dibandingkan sistem pendidikan sebelumnya. I.P. Simanjutak   menegaskan bahwa masuknya Islam tidak mengubah hakikat pengajaran agama yang formil. Perubahan yang terjadi sejak pengembangan Islam hanyalah menyangkut isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi wahana bagi pelajaran agama itu, dan latar belakang para santri.Dengan demikian, sistem pendidikan yang dikembangkan pesantren dalam banyak hal merupakan hasil adaptasi dari poal-pola pendidikan yang telah ada dikalangan masyarakat Hindu-Budha sebelumnya. Jika ini benar, ada relevansinya dengan statement bahwa pesantren mendapat pengaruh dari tradisi lokal.

Model pendidikan agama jawa yang diadaptasi itu disebut pariwayatan, berbentuk asrama dengan rumah guru yang disebut Kiajar ditengah-tengahnya. Sistem pendidikan ini diambil dengan mengganti nilai ajarannya menjadi nilai ajaran Islam. Pengambilan model meniru dan mengganti ini juga terjadi dalam sistem pewayangan.

Proses adaptasi sistem pendidikan itulah yang menguatkan penilaian selama ini bahwa pendidikan pesantren  disebut sisten pendidikan produk Indonesia. Nurcholish Madjid menyebut dengan istilah indegenous (pendidikan asli Indonesia).  Sistem pendidikan asli Indonesia ini pernah menganut dan memiliki daya tawar yang tinggi sebagai antitesis terhadap sistem pendidikan Belanda. Karel A. Streenbrink mengungkapkan bahwa pada 1930-an, sistem pesantren yang sering disebut sistem pendidikan asli indonesia dapat menyaingi pendidikan Barat yang materialis dan bertujuan mempersiapkan tenaga untuk fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat dan untuk mencari uang.

Selanjutnya pesantren adalah sistem pendidikan yang melakukan kegiatan sepanjang hari. Santri tinggal di asrama dalam satu kawasan bersama guru, kiai dan senior mereka. Oleh karena itu, hubungan yang terjalin antara santri-guru-kiai dalam proses pendidikan berjalan intensif, tidak sekedar hubungan formal ustadz-santri di dalam kelas. Dengan demikian kegiatan pendidikan berlangsung sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari.

Sistem pendidikan ini membawa keuntungan, antara lain : pengasuh mampu melakukan pemantauan secara leluasa hampir setiap saat terdapat perilaku santri baik yang terkait dengan upaya pengembangan intelektualnya maupun kepribadiannya. Keuntungan kedua adalah adanya proses pembelajaran dengan frekuensi yang tinggi dapat memperkokoh pengetahuan yang diterimanya. Dalam teori pendidikan diakui bahwa belajar satu jam yang dilakukan lima kali lebih baik daripada belajar selama lima jam yang dilakukan sekali , padahal rentangan waktunya sama. Keuntungan ketiga adalah adanya proses pembiasaan akibat interaksinya setiap saat baik sesama santri, santri denga ustadz maupun santri dengan kiai.

 Keuntungan lainnya adalah adanya integrasi antara proses pembelajaran dengan kehidupan keseharian. Mastuhu menilai bahwa sistem pendidikan pesantren menggunakan pendekatan holistik. Para pengasuh memandang kegiatan belajar mengajar merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan kehidupan sehari-hari. Akibatnya muncul sikap saling menjaga komitmen dan konsistensi terutama dari pihak pengasuh baik kiai maupun ustadz.  Apa yang dianjurkan oleh kiai maupun ustadz harus terlebih dahulu terefleksi dalam kehidupan keseharian mereka.

Dalam sistem pendidikan ini fungsi keteladanan menjadi sangat dominan. Apalagi ketika dikaitkan dengan doktrin agama. Nabi Muhammad saw menjadi teladan bagi umat manusia, sementara itu para kiai adalah pewaris para Nabi (al-ulama warasat al-anbiya). Maka kronologinya adalah para kiai menjadi teladan bagi umat islam, terlabih lagi di pesantren kiai menjadi teladan bagi santri-santrinya.

Sistem pendidikan pesantren memang menunjukkan sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. Maka pesantren menghadapi dilema unuk mengintregasikan sistem pendidikan yang dimiliki dengan sistem pendidikan nasional. Ditinjau dari awal mula sejarah berdirinya pesantren memang tidak dimaksudkan untuk meleburkan dalam sistem pendidikan nasional. Bahkan ketika menghadapi penjajah Belanda, pesantren memiliki strategi isolasi dan konservasi. Akibatnya seperti dituturkan Muhammad Nuh Sholeh, berbagai citra negatif diarahkan pada pesantren. Pesantren seringkali dinilai sebagai sistem pendidikan yang isolasionis terpisah dari aliran utama pendidikan nasional, dan konservatif yakni kurang peka terhadap tuntutan perubahan zaman dan masyarakat. Fungsi yang kedua ini (konservatif) terlihat pada upayanya menjaga ajaran Islam.

Sistem pendidikan pesantren juga sangat bergantung pada selera kiainya. Keahlian dan pengalaman kiai tentu saja turut mewarnai sistem pendidikan pesantren yang diasuhnya. Tidak sedikit spesialisasi pengkajian di pesantren disesuaikan dengan spesialisasi keilmuan yang dimiliki kiainya. Pilihan ini masih dalam batas kewajaran atau keniscayaan, yang menarik justru sikap independen kiai dalam menetukan corak sistem pendidikan pesantrennya.

Oleh karena itu, sistem pendidikan pesantren masih belum memiliki kesamaan dasar di luar penggunaan buku-buku wajib (kutub al-muqarrarah). Keragaman ini timbul karena ketidaksamaan dalam sistem pendidikannya. Ada pesantren yang menyelenggarakan pengajian tanpa madrasah/sekolah, ada pesantren yang hanya menggunakan sisitem pendidikan madrasah secara klasikal, dan ada pula pesantren yang menggabungkan sistem pengajian dan sistem madrasah secara non klasikal. Pada sistem madrasah non klasikal ini, materi pelajaran diberikan secara berurutan dari kitab-kitab lama yang sudah umum dipakai dalam pengajian. Maka tidak mungkin ada penyatuan kurikulum pesantren selama masih ada perbedaan – perbedaaan cukup besar dalam sistem pendidikan yang dianut.

 

Kuatnya independensi tersebut menyebabkan pesantren memiliki kebebasan relative yang tidak harus mengikuti model baku yang ditetapkan pemerintah dalam bidang pendidikan. Pesantren bebas mengembangkan model pendidikannya tanpa harus mengikuti standarisasi dan kurikulum yang ketat. Pesantren selalu memberikan kebebasan dalam menentukan pola kebijakan pendidikannya. Maka pesantren menggunakan prinsip kebebasan terpimpin dalam menjalakan kebijaksanaan pendidikannya.

Kebebasan terpimpin di sini adalah kebebasan dalam memilih, memutuskan dan menjalankan kebijakan pendidikan sesuai dengan kehendak kiainya. Terhadap kebijakan pemerintah, sistem pendidikan pesantren menempuh sikap sebebas-bebasnya, namun dikalangan intern pesantren sendiri, yang memiliki kebebasan adalah kiainya. Para ustadz tidak berkenan menetukan kebijakan pendidikan pesantren, terlebih para santri.

Lantaran tingkat pluralitas yang tinggi, independensi yang kuat kondisi – kondisi yang berjalan alamiah menyebabkan adanya kesulitan memberikan rumusan, definisi, dan konseptualisasi secara pasti tentang pesantren. Memang ada pengamatan, hasil penelitian dan analisis, tetapi tetap saja tidak bisa mewakili pluralitas dan otonomi – intelektual masing – masing pesantren. Rata – rata kesulitan yang dihadapi peneliti ketika mengadakan penelitian tentang pesantren adalah menyangkut keragaman atau variasi pesantren tersebut karena tidak bisa digeneralisasi, sehingga penjelasan yang bisa diberikan lebih mencerminkan kasusu per kasus.

Sisi negatif lain yang terdapat pada sistem pendidikan pesantren adalah kesemrawutan organisasi. M.M. Billah melaporkan bahwa hubungan antar pesantren secara menyeluruh hampir tidak ada standarisasi, baik tentang silabus, kurikulum dan bahkan literaturnya maupun sistem penerimaan, promosi, gradasi santri, dan tartan ilmu yang diterima oleh santri. Hampir semua proses pembelajarannya tidak melalui perencanaan yang matang dan standart – standart yang ketat.

Sehingga, di dalam pesantren tradisional tidak dikenal sistem kelas. Kemampuan siswa tidak dilihat kelas berapanya, tetapi dilihat dari kitab apa yang dibacanya. Orang – orang pesantren telah dapat mendudukan derajat ilmu seorang santri atas dasar kitab yang dibacanya.Misalnya, seorang santri telah ikut mengkaji kitab Ihya’ Ulum al-Din maka ia dianggap memilki kemampuan yang cukup tinggi karena peserta pengkajian kitab tersebut dari kalangan santri senior, yang tentu terbatas sekali.

Perbedaan lainnya anatara pesantren dengan pendidikan formal adalah kesuksesan belajar santri. Jika ada santri yang belajar di pesantren hingga 27 tahun, maka penilaian orang berarti dia memilki kemampuan yang tinggi. Sebaliknya di perguruan tinggi, kalau ada seorang mahasiswa yang menyelesaikan program S-1 dalam waktu 3 tahun berarti hebat. Jika sampai membutuhkan waktu 10 tahun untuk S-1 berarti mengalami kelambanan serius.

 

Pada bagian lain “secara tradisional sistem pendidikan yang diterapkan di pesantren memilahkan secara tegas aspek pengembangan intelektual dan aspek kepribadian”.Sistem pendidikan pesantren lebih mengutamakan pembinaan kepribadian daripada pengembangan intelektual, sehingga daya kritis, tradisi kritik, semangat meneliti, dam kepedulian menawarkan sebuah konsep keilmuan tidak muncul di pesantren.

Eksistensi Pesantren ternyata sampai hari ini, ditengah-tengah deru modernisasi, pesantren tetap bisa bertahan  (survive) dengan identitasnya sendiri. Bahkan akhir-akhir ini para pengamat dan praktisi pendidikan dikejutkan dengan tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga pedidikan pondok pesantren di tanah air ini. Pertumbuhan pesantren yang semula rural based institution menjadi juga lembaga pendidikan urban, bermunculan juga di kota-kota besar. Di samping banyak juga pendidikan umum yang mengadopsi aspek-aspek tertentu dari sistem pendidikan pesantren. Mengadopsi sistem asrama dengan menyebutnya “boarding school”. Sistem “boarding” tentu saja merupakan salah satu karakteristik dasar sistem pendidikan pesantren

Satu hal lagi yang perlu kita catat bahwa tidak sedikit pemimpin-pemimpin bangsa ini, baik pemimpin yang duduk dalam pemerintahan maupun yang bukan, formal atau informal, besar maupun kecil, dilahirkan oleh pondok pesantren..

2.3. Proses Pembalajaran di Pesantren

Sebagaimana halnya kurikulum, proses pembelajaran madrasah atau sekolah yang di selenggarakan oleh pondok pesantren juga menggunakan metode pembelajaran yang sama dengan metode pembelajaran di madrasah atau sekolah lain, di luar pondok pesantren. Metode pembelajaran yang di gunakan di lembaga pendidikan formal lain yang di selenggarakan oleh pondok pesantren, selain madrasah dan sekolah, pada umumnya mengikuti metode yang berkembang di madrasah atau sekolah.

Proses pembelajaran di pondok pesantren salafiyah ada yang menggunakan metode yang bersifat tradisional, yaitu metode pembelajaran yang di selenggarakan menurut kebiasaan yang telah lama dilaksanakan pada pesantren atau dapat juga disebut sebagai metode pembelajan asli (original) pondok pesantren. Disamping itu ada pula yang menggunakan metode pembelajaran modern (tajdid). Metode pembelajaran modern merupakan metode pembelajaran hasil pembaharuan kalangan pondok pesantren dengan memasukkan metode yang berkembang pada masyarakat modern, walaupun tidak selalu diikuti dengan menerapkan sistem modern, yaitu sistem sekolah atau madrasah.

 

 

 

Berikut ini beberapa metode pembelajaran tradisional yang menjadi ciri utama proses pembelajaran di pondok pesantren salafiyah :

  1. Metode Sorogan

Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kiai atau pembantunya (badal. Asisten kiai). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang seorang santri berhadapan langsung dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim.

Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan pada ruang tertentu. Ada tempat duduk kiai atau ustadz, di dapannya ada meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap. Santri-santri lain, baik yang mengaji kitab yang sama ataupun berbeda duduk agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh kiai atau ustadz sekaligus mempersiapkan diri menunggu giliran di panggil.

Metode pembelajaran ini termasuk metode pembelajaran yang sangat bermakna karena santri akan merasakan hubungan yang khusus ketika berlangsung kegiatan pembacaan kitab di hadapan kiai. Mereka tidak hanya senantiasa dapat dibimbing dan diarahkan cara membacanya tetapi dapat dievaluasi perkembangan kemampuannya.

Metode sorogan adalah bagian wajib dalam pesantren. Metode ini telah menjadi bagian pembelajaran pesantren dari berabad-abad tahun yang lalu. Seiring perkembangan dalam dunia pendidikan seperti munculnya sekolah-sekolah binaan pemerintah bahkan sampai sekolah yang bertaraf nasional dan internasional, pesantren tetap konsisten dengan metode khasnya itu. Memang seakan terjadi stagnasi disini. Dimana lembaga-lembaga pendidikan modern banyak bermunculan dengan menggembar-gemborkan standar dan mutu kualitas masing-masing, justru pesantren tetap istiqomah dengan metode klasikalnya.

  1. 2.      Metode Wetonan/Bandongan

Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan sesudah melakukan shalat fardu. Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran secarah kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di jawa barat di sebut dengan bandongan.

 

 

Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ini, biasanya dilakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Kiai menciptakan komunikasi yang baik dengan para santri.
  2. Memperhatikan situasi dan kondisi serta sikap para santri apakah sudah siap untuk belajar atau belum?
  3. Seorang kiai atau ustadz dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membaca teks arab gundul kata demi kata disertai dengan terjemahannya dan pembacaan tanda-tanda khusus (seperti “utawi”, “iku”, “sopo” dan sebagainya) pada topik/pasal tertentu disertai pula dengan penjelasan dan keterangan-keterangan.
  4. Pada pembelajaran tingkat tinggi, kiai atau ustadz kadang-kadang tidak langsung membaca dan menerjemahkan, tetapi menunjuk secara bergiliran kepada para santrinya untuk membaca dan menerjemahkan sekaligus menerangkan suatu teks tertentu.
  5. Setelah menyelesaikan pembacaan pada batasan tertentu, kiai atau ustadz memberu kesempatan kepada para santri untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas. Jawaban dilakukan langsung oleh kiai atau ustadz atau memberi kesempatan terlebih dahulu pada para santri yang lain.
  6. Sebagai penutup kiai atau ustadz menjelaskan kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung.

Untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran diatas, seoorang kiai/ustadz biasa melakukannya melalui dua macam tes. Pertama: pada setiap tatap muka atau pada tatap muka tertentu. Kedua: pada saat telah dikhatamkannya pengkajian terhadap suatu kitab tertentu.

  1. 3.      Metode Musyawarah/BahtsulMasa’il

Metode musyawarah atau dalam istilah lain BahtsulMasa’il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh kiai atau ustadz, atau mungkin juga santri senior, untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang yang telah ditentukan sebelumnya.

Untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode ini, kiai atau ustadz biasanya mempertimbangkan ketentuan-ketentuan berikut:

  1. Peserta musyawarah adalah para santri yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.
  2. Peserta musyawarah tidak memiliki perbedaan kemampuan mencolok. Ini di maksudkan sebagai upaya untuk mengurangi kegagalan musyawarah.
  3. Topik atau persoalan (materi) yang dimusyawarahkan biasanya di tentukan terlebih dahulu oleh kiai atau ustadz pada pertemuan sebelumnya.
  4. Pada beberapa pesantren yang memiliki santri tingkat tinggi, musyawarah dapat dilakukan secara terjadwal sebagai latihan untuk para santri.
  1. 4.      Metode Pengajian Pasaran

Metode pangajian pasaran adalah kegiatan belajar para santri melalui pnegkajian materi (kitab) tertentu pada seorang kiai/ustadz yang dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan yang terus menerus (maraton) selama tenggang waktu tertentu.

Dalam prespektif lebih luas, pengajian pasaran ini dapat dimaknai sebagai proses pembentukan jaringan-jaringan kitab-kitab tertentu diantara pesantren-pesantren yang ada. Mereka yang mengikuti pengajian pasaran di tempat tertentu akan menjadi bagian dari jaringan pengajian pesantren itu. Dalam konteks pesantren hal ini amat penting karena akan memperkuat keabsahan pengajian di pesantren-pesantren para kiai yang telah mengikuti pengajian pasaran itu.

  1. 5.       Metode Hafalan (muhafadzah)

Metode hapalan metode hapalan adalah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu dibawah bimbingan dan pengawasan kiai/ustadz. Para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacaan dalam waktu tertentu. Hafalan yang dimiliki santri ini kemudian dihafalkan kepada kiai atau ustadz secara periodik atau insidental tergantung pada kiai atau ustadz yang bersangkutan.

Titik tekan metode ini adalah santri mampu mengucapkan atau melafalkan kalimat-kalimat tertentu secara lancar pada teks. Pengucapan tersebut dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Metode ini dapat juga di gunakan dengan metode bendongan atau sorogan.

Untuk mengevaluasi kegiatan belajar dengan metode ini dilakukan dengan dua macam evaluasi. Pertama : dilakukan pada setiap kali tatap muka, yang kedua: pada waktu telah dirampungkan/diselesaikannya seluruh hafalan yang ditugaskan pada santri.

  1. 6.       Metode Demonstrasi (praktek ibadah)

Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan (mendemontrasikan) suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok dibawah petunjuk dan bimbingan kiai atau ustadz, dengan contoh kegiatan sebagai berikut :

  1. Para santri mendapat penjelasan/teori tentang tata cara pelaksanaan ibadah yang akan di praktekkan sampai mereka betul-betul memahaminya.
  2. Para santri berdasarkan bimbingan kiai/ustadz mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan praktek.
  3. Setelah menentukan waktu dan tempat para santri berkumpul untuk menerima penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan yang akan dilakukan serta pembagian tugas kepada para santri berkenaan dengan pelaksanaan praktek.
  4. Para santri secara bergiliran/bergantian memperagakan pelaksanaan praktek ibadah tertentu dengan dibimbing dan diarahkan oleh kiai atau ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya).
  5. Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para santri diberi kesempatan mempertanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama berlangsung kegiatan.

 

2.4. Teori pendidikan yang ada dalam pesantren

 

Di dalam pesantren ini juga multi fungsi di dalamnya mengandung pendidikan struktural fungsional dan juga struktural konflik

  1. Pendidikan struktural fungsional ada pada saat Metode Wetonan/Bandongan dan Metode Pengajian Pasaran karena di dalamnya ustad atau para kiai hanya memberikan pengetahuannya tentang apa yang mereka pelajari dan yang di ketahui saja. Dan para dantri hanya mendengarkan dan mengingatnya saja, tanpa ada pengetahuan yang kritis di dalamnya.
  2. Pendidikan struktural Konflik ada pada saat Metode Musyawarah/BahtsulMasa’il karena di dalamnya selain ustad atau para kiai memberikan pengetahuannya tentang apa yang mereka pelajari, para murid juga bisa menyanggahnya dengan argumen mereka tapi tetap dengan rujukan atau kitab yang tepat. dan bisa mengambil jalan keluar dari suatu masalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren telah banyak memberikan andil bagi bangsa Indonesia, pendidikan pesantren tidaklah jadul atau kuno. Di sanalah banyak terlahir intelek-intelek muda dan berbakat.

 

Walau bagaimana tangguhnya sebuah pesantren ia harus tetap belajar dengan lingkungan sekitarnya sambil melestarikan identitas keislamannya. Sistem fiqih orientied yang diterapkan pada masa Ampel misalnya, pada zaman kini dirasa kurang berhasil melahirkan alumni yang iltizam dengan agamanya, terbukti adanya sebagian santri setelah lulus dari pesantrennya kurang mengamalkan ajaran agamanya. Karena sekeluarnya dari almamater, dalam jiwanya merasa telah bebas dari segala peraturan dan tata tertib pesantren, padahal sebenarnya sebagian besar tata tertib itu adalah bagian dari ajaran Islam, seperti berjilbab, sholat berjamaah, membaca al-Quran, menjauhi yang haram dan syubhat, melakukan hal yang sunah dan lain sebagainya.

 

Oleh karena itu perlu adanya upaya memberi materi Islam secara kaffah, kamil dan mutakamil. Sehingga pemahaman dan sikapnya terhadap Islam pun bersifat komprehensif, dan tidak sepenggal-penggal.

 

Keanekaragaman lembaga pendidikan Islam merupakan khazanah yang perlu dilestarikan. Setiap lembaga mempunyai ciri khas dan orientasi masing-masing, namun demikian harus ada satu komitmen, yaitu memberi pemahaman Islam secara kaffah demi izzul Islam wal muslimin. Wallahu’alam

 

 

3.2. PENUTUP

Demikian makalah ini saya sampaikan, namun saya sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif daninovatif sangat saya harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,serta menambah khasanah keilmuan kita semua. Amin

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

M. Dawam Raharjo,  (1985) “Perkembangan Masyarakat dalam Perspektif Pesantren”, Pengantar dalam M. Dawam Raharjo , Pergaulan Dunia Pesantren : Membangun dari Bawah (Jakarta : P3M),

Nurcholish Madjid. (1992). Bilik-bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta : Paramadina

Abddurrahman Wahid. (1999). Pondok Pesantren Masa Depan. Bandung : Pustaka Hidyah.

 

 

Sampingan
0

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Hubungan antar sesama manusia maupun hubungan manusia dengan alam merupakan hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Tuhan. Kalaupun manusia mampu menguasai, hal itu bukan karena potensi yang dimilikinya semata, tetapi lantaran Tuhan menundukkannya untuk manusia, yang menjadikan manusia sebagai khalifatullah. (QS. 45: 13).

Maka dari hubungan yang saling membutuhkan tersebut, manusia hidup dalam kelompok-kelompok atau golongan-golongan, baik kelompok kecil maupun besar yang juga meliputi wilayah yang luas yang masing-masing kelompok memiliki pola hubungan yang berbeda-beda. Islam mencoba mengintegrasikan berbagai unsur menjadi satu masyarakat yang disebut Ummah. Sebuah masyarakat yang islami yang sesuai dengan konsep ummah tentu saja menjadi harapa kita semua khususnya sebagai umat Islam, akan tetapi masih begitu sulit membangun sebuah ummat ataupun Negara yang sesuai dengan konsep ummah. Dan makalah ini mencoba menjelaskan ummah dengan berbagai sudut.

 

1.2   Rumusan masalah

Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah :

1. Apa definisi ummah ?

2. Bagaimana kedudukan Ummah dalam Al-Qur’an ?

3. Bagaiman gambaran umat Islam di masa Rasaulullah ?

4. Apa Iftiraqul Ummah itu ?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1   Definisi Al-Ummah

Ummah berasal dari kata dalam bahasa Arab umm yang berarti ibu. Bagi setiap manusia Muslim atau manusia-Tauhid Ummah itu menjadi semacam ‘ibu pertiwi’ yang diwadahi dalam iman atau akidah yang sama, bukan oleh batas-batas geografis-teritorial.

Menurut Imam syahid Hasan Al-banna, Ummah adalah masyarakat yang dimanapun ditempat masyarakat tersebut berdiam terdengar nama Allah yang disebut maka disitu jualah tanah air ummat islam. Sedangkan Qamaruddin Khan menyatakan bahwa pada awalnya Ummah berarti orang-orang yang bermaksud untuk mengikuti seorang pimpinan (imam), hukum (syari’ah), din atau jalan (manhaj). Dari perkataan dasar Ummah ini timbullah dua buah konsep penting yaitu mengenai masyarakat dan agama. Kedua konsep ini sering dipergunakan dengan digabungkan sehingga muncul pengertian masyarakat keagamaan.

Definisi tentang Ummah secara luas dan kompleks dikemukakan oleh Ziauddin Sardar. Ia menyatakan bahwa Ummah adalah persaudaraan Islam, seluruh masyarakat Muslim, yang dipersatukan oleh persamaan pandangan-dunia (din), yang didasarkan pada sebuah gagasan universal (tauhid) dan sejumlah tujuan bersama untuk mencapai keadilan (‘adl) dan ilmu pengetahuan (‘ilm) dalam upaya memenuhi kewajiban sebagai pengemban amanah (khalifah) Tuhan di muka bumi.

Dibandingkan dengan beberapa definisi Ummah sebelumnya, definisi ini lebih lengkap. Dalam definisinya Sardar menyebutkan secara jelas tujuan yang harus dicapai oleh Ummah yaitu keadilan dan ilmu. Pencapaian tujuan ini merupakan peran wajib bagi Ummah sebagai pengemban amanat kekhalifahan Tuhan. Dari keterangan ini dapat diambil kesimpulan bahwa Ummah bukanlah konsep yang statis, melainkan konsep yang dinamis dan dapat diterapkan dalam datarann kehidupan yang nyata umat manusia.

 

 

 

Kekhasan kata Ummah yang dimiliki Islam ini sukar didapatkan padanan katanya dalam bahasa Barat, kata itu harus menunjukkan hubungan yang erat antara urusan spiritual dan keduniaan. Demikian pula harus menunjukkan kewajiban-kewajiban moral dan yuridis yang banyak terdapat di dalam al-Qur’an.

Ummah bukanlah masyarakat dalam  pengertian sosiologi lengkap dengan ciri-cirinya. Ummah adalah wadah berkumpulnya orang-orang mukmin yang percaya kepada kesaksian yang berpusat kepada Tuhan, yang tidak berubah dan abadi yaitu al-Qur’an. Ummah ini tidak bersifat eksklusif, akan tetapi sangat terbuka karena penambahan anggota-anggota baru dimungkinkan atas dasar kriteria yang tetap dengan syarat umum yaitu tunduk pada kepercayaan.

 

2.2  Ummah Dalam Al-Qur’an

Kata Ummah dalam al-Qur’an yang disebutkan berkali-kali dan dalam berbagai surat, sebagaimana telah disebutkan di atas, digunakan dalam makna yang berbeda-beda. Ahmad Mustafa al-Maragi dalam kitab tafsirnya menyebutkan lima pengertian Ummah yang dipakai dalam al-Qur’an, yaitu:

  1. Ummah dalam  pengertian akidah atau dasar-dasar syari’at (Q.S. al-Anbiya’ [21] 92).
  2. Ummah dalam pengertian sekelompok orang yang terikat dalam suatu ikatan yang        kokoh ( Q.S. al-A’raf [7] : 181).
  3. Ummah dalam pengertian waktu ( Q.S. Yusuf [12] : 45).
  4. Ummah dalam pengertian imam (pemimpin) yang diteladani ( Q.S. an-Nahl [16] : 120).
  5. Ummah dalam pengertian salah satu Umat yang telah dikenal, yaitu umat Islam (Q.S. Ali Imran [3] : 110).

Di antara banyak penyebutan kata Ummah dalam al-Qur’an terdapat kata Ummah yang mempunyai ciri khusus bila dibandingkan dengan kata Ummah yang lain. Ciri khusus itu berupa penambahan kualifikasi pada kata Ummah itu menjadi Khairu Ummah yang dapat diterjemahkan sebagai Umat yang terbaik, yang terdapat dalam Q.S. Ali Imran : 110. Kualifikasi lain yang diberikan pada kata Ummah adalah Ummatan Wasatan, yang dapat diterjemahkan sebagai umat yang adil dan terpilih, yang terdapat dalam Q.S. al-Baqarah : 143.

Maka beruntunglah kita sebagai ummat muslim yang ditunjuk langsung oleh Allah SWT sebagai ummat terbaik dengan syarat yang dijelaskan Allah dalam surat Ali Imron ayat 110 tersebut.

 

2.3  Gambaran Masyarakat Islami pada Zaman Rasulullah

 

Pada dasarnya, alur perjalanan sejarah Islam yang panjang dan penuh keindahan itu bermula dari turunnya wahyu Al-Qur’an di gua Hira’. Sejak saat itu kekuatan Maha Dahsyat yang ada pada islam mampu menerobos seluk beluk kultur jahiliyah, merombak kerusakan akhlaq dan membenahi adat istiadat budaya jahiliyah yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Beliau mencoba mendobrak kenistaan Mekkah pada saat itu dengan dakwah yang begitu terjal, hingga 13 Tahun beliau melakukannya untuk menanamkan keTauhidan pada para masyarakat Mekkah saat itu. Dimulai dari famili terdekat beliau hingga prosedur perekrutan Abu Bakar ”sang Juru silsilah” kaum Quraisy. Dengan seruan agama tauhid yang gaungnya menggetarkan seluruh jazirah Arabia, maka fitrah dan nilai kemanusiaan didudukkan ke dalam hakekat yang sebenarnya. Seruan agama tauhid inilah yang merubah wajah masyarakat jahiliyah menuju ke tatanan masyarakat yang harmonis, dinamis, di bawah bimbingan wahyu.

Kemudian, setelah pengemblengan tauhid pada para pengikut beliau sudah mantap, maka hijrah Rasulullah ke Madinah adalah suatu momentum bagi kecemerlangan Islam di saat-saat selanjutnya. Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah telah berhasil membina jalinan persaudaraan antara kaum Muhajirin sebagai imigran-imigran Makkah dengan kaum Ansar, penduduk asli Madinah.

Masyarakat muslim Madinah yang berhasil dibentuk Rasulullah oleh sebagian intelektual muslim masa kini disebut dengan negara kota (city state) selama 10 Tahun penuh dengan siasat dan strategi yang kuat dari Kalam Ilahi. Lalu, dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (national state) . maka, jadilah madinah sebagai ”darul islam”.

 

 

 

Dalam masyarakat muslim yang terbentuk itulah Rasulullah menjadi pemimpin dalam arti yang luas disebuah daulah islamiyah yaitu Madinah Al-Munawwaroh, yaitu sebagai pemimpin agama dan juga sebagai pemimpin masyarakat. Konsepsi Rasulullah yang diilhami al Qur’an ini kemudian menghasilkan Piagam Madinah yang mencakup 47 pasal, yang antara lain berisikan hak-hak asasi manusia, hak-hak dan kewajiban bernegara, hak perlindungan hukum, sampai toleransi beragama. Jelaslah bahwa konsep ummah yang diperjuangkan oleh Rosulullah sejak mengembleng Tauhid dimekkah selama 13 Tahun dan mendalaminya pada fase Madinah selama 10 tahun, memerlukan sebuah proses perncanaan yang matang dalam waktu relatif lama. Maka hal itulah yang harus kita fahami saat ini.

 

2.4  Penjelasan Tentang Hadits Iftiraqul Ummah

Berawal dari hadits iftiraqul ummah (perpecahan umat), memunculkan berbagai persepsi dalam menyikapi variansi kelompok yang ada ditengah-tengah kaum muslimin. Diantara mereka ada yang terkesan memaksakan kelompok tertentu sebagai satu-satunya komunitas yang mendapatkan jaminan selamat di antara sekian kelompok yang ada. Kemudian mereka berusaha untuk menyematkan ancaman kecalakaan dan neraka kepada komunitas selainnya. Di sisi lain ada juga yang terlalu longgar dalam memaknai hadits tersebut sehingga menafikan adanya aliran sesat selagi masih menisbatkan dirinya kepada islam meski hanya namanya saja.

Untuk mendudukkan hadits tersebut ke dalam realita kehidupan dengan aneka ragam kolompok ini, hendaknya kita menilai tidak hanya dari sudut pandang teks yang tertera di hadits dan kita ma’nai sesuai dengan kehendak kita. Sehingga yang dihasilkan hanyalah jutstifikasi terhap persepsi yang kita simpulkan dan kemudian mencari dalil sebagai penguat. Namun handaknya kita meneliti secara jeli hadits tersebut serta mengidintentifikasi pernyataan para ulama yang menjelaskan tentang maksud daripadanya.

 

 

 

Hadits yang menyebutkan tentang iftiraqul ummah menjadi 73 golongan adalah sebagai berikut:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Sesungguhnya bani israil terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya terancam masuk neraka kecuali satu. Dialah al-jama’ah.”

Hadits ini atau yang makna dengannya juga tendapat pada beberapa kitab hadits diantaranya dalam Sunan ibnu Majah , Sunan abi Dawud , Musnad Ahmad , Sunan ad-Darimiy , As-syariah milik Al-ajuriy

Hadits ini merupakan pengakhabaran dari Rasulullah saw tentang perpecahan yang akan terjadi pada tubuh kaum muslimin. Pengguna’an kata “ummah” memancing perbincangan para ulama tentang maknanya.

Apakah yang dimaksud adalah ummatud da’wah (termasuk di dalamnya yahudi dan nasrani dan yang lainnya) yang menjadi obyek dakwah Rasulullah saw, atau yang dimaksud adalah ummatul ijabah (ummat islam secara khusus). Imam as-sindiy berkata: “yang dimaksud adalah ummatul ijabah, yaitu ahlul qiblah. Karena istilah ummah dinisbatkan kepada beliau shallalahu alaihi wasallam yang secara langsung dapat difahami sebagai ummatul ijabah.

Sedangkan seorang ulama, DR. Al-Buthiy bependapat bahwa yang dimaksud dengan ummah adalah  ummatud da’wah. Ini berdasarkan dengan argumentasi bahwa Rasulullah saw menggunakan kata ummah secara umum. Kalau saja yang dimaksud dengan ummah adalah ummatul ijabah tentunya beliau akan menggunakan isitlah “sataftariqul muslimin”. Ini maknanya bahwa yang dimaksud dengan ummah adalah ummatu da’wah. Kesimpulannya bahwa ummat yang di menjadi obyek dakwah rasulullah akan terpecah menjadi 73 agama. Dan jaminan bahwa yang selamat adalah hanya satu agama maknanya adalah agam islam dengan sekian sekte-sektenya.

Pendapat yang rajih adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh As-Sindiy dengan beberapa alasan: Pertama, bahwa di hadits yang lain Rasulullah menejelaskan bahwa yahudi dan nasraniy terpecah menjadi 71 golongan dan kemuadian Rasulullah menjelaskan pada waktu yang bersama’an bahwa ummatnya akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Ini maknanya bahwa yang dimaksud dengan ummat di hadits tersebut adalah ummatul ijabah yaitu islam.

 Alasan ke dua, bahwa hadits tersebut adalah sebagi bentuk pengakhabaran terhadap kejadian yang akan datang. Sedangkan perpecahan yang terjadi pada ummatud dakwah seperti yahudi dan nasrani sudah terjadi pada masa Rasulullah saw. Dengan demikian yang lebih tepat untuk memaknai ummatiy adalah ummatul ijabah.

Adapun yang dimaksud dengan perpecahan dalam hadits tersebut adalah perpecahan dalam permasalahn yang bersifat ushul dan i’tiqad bukan dalam hal furu’ (cabang) dan amaliyah. As-sindiy berkata “yang dimaksud adalah perpecahan mereka dalam perkara ushul dan i’tiqad bukan dalam hal furu’ dan amaliyat.

Karena dalam perkara furu’ islam memberikan toleransi yang lebih luas dan hal tersebut masuk dalam ranah ijtihad para ulama. Sangat banyak kita dapatkan perbeda’an dalam hal furu’ dan amaliyat terjadi dikalangan para ulama semenjak pada masa Rasulullah saw hingga saat ini. Di dalam Aunul ma’bud syarh sunan abiy Dawud disebutkan bahwa tidakalah termasuk dalam firaq madzmumah itu mereka yang berselisih dalam perkara cabang fiqih dalam pembahasan halal dan haram, namum yang dimaksud adalah mereka yang menyelisihi ahlulul haq dalam perkara ushul tauhid.

Adapun ma’na yang 72 di neraka bukanlah sebuah kepastian bahwa setiap personal dari mereka akan masuk kedalam neraka dan kekal di dalamnya. Karena 72 puluh dua golongan tersebut tidak keluar dari lingkup islam. Al khattabiy berkata: “(akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan) dalamnya tertadapat penjelasan bahwa kelompok-kelompok ini tidak keluar dari lingkup Diin. Kerena Nabi saw menyebut sebagai ummatnya. Meskipun diantara kaum muslimin ada yang munafiq yang mereka menampakkan islam dan menyembunyikan kekafiran. Atau diantara mereka ada yang menisbatkan diri kepada islam namun praktek amal mereka mengeluarkan mereka dari islam.

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1 KESIMPULAN

                  Ummah berasal dari kata dalam bahasa Arab umm yang berarti ibu. Bagi setiap manusia Muslim atau manusia-Tauhid Ummah itu menjadi semacam ‘ibu pertiwi’ yang diwadahi dalam iman atau akidah yang sama, bukan oleh batas-batas geografis-teritorial. Ada banyak versi definisi ummah yang berkembang, Menurut Imam syahid Hasan Al-banna, Ummah adalah masyarakat yang dimanapun ditempat masyarakat tersebut berdiam terdengar nama Allah yang disebut maka disitu jualah tanah air ummat islam.

                  Kata Ummah dalam al-Qur’an yang disebutkan berkali-kali dan dalam berbagai surat, sebagaimana telah disebutkan di atas, digunakan dalam makna yang berbeda-beda. Di antara banyak penyebutan kata Ummah dalam al-Qur’an terdapat kata Ummah yang mempunyai ciri khusus bila dibandingkan dengan kata Ummah yang lain. Ciri khusus itu berupa penambahan kualifikasi pada kata Ummah itu menjadi Khairu Ummah yang dapat diterjemahkan sebagai Umat yang terbaik, yang terdapat dalam Q.S. Ali Imran : 110.

                  Pada awal masa islam Pada dasarnya, alur perjalanan sejarah Islam yang panjang itu bermula dari turunnya wahyu di gua Hira’. Sejak itulah nilai-nilai kemanusiaan yang di bawah bimbingan wahyu Ilahi menerobos arogansi kultur jahiliyah, merombak kerusakan akhlaq dan membenahi adat istiadat budaya jahiliyah yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Beliau mencoba mendobrak kenistaan Mekkah pada saat itu dengan dakwah yang begitu terjal, hingga 13 Tahun beliau melakukannya untuk menanamkan keTauhidan pada para masyarakat Mekkah saat itu.

                  Jelaslah bahwa konsep ummah yang diperjuangkan oleh Rosulullah sejak mengembleng Tauhid dimekkah selama 13 Tahun dan mendalaminya pada fase Madinah selama 10 tahun, memerlukan sebuah proses perncanaan yang matang dalam waktu relatif lama. Maka hal itulah yang harus kita fahami saat ini.

 

 

3.2  PENUTUP

Demikian makalah ini saya sampaikan, namun saya sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif daninovatif sangat saya harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,serta menambah khasanah keilmuan kita semua. Amin

 

DAFTAR PUSTAKA

-Hawa, said, Al-Islam , Jakarta : Al-Itishom Cahaya Umat, 2004

-Al-Qardhawi, Yusuf, Fiqih Daulah, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1997

-Al-Banna, Hasan, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Surakarta : Era Intremadia, 2005

– Musnad Ahmad, karya Abu Abdillah Ahmad bin Hambal, penerbit baitul afkar ad-dawliyah, cet tahun 1419 H/ 1998 M.

– Sunan Ad-darimiy, karya Abu Muhammad Abdullah bin Abdur Rahman bin Al Fadhl bin Bahram ad-Darimiy, penerbit Darul mughniy, cet. Pertama, tahun 1421 H/ 2000 M.